Headlines News :
BRAM Grup bahruninfo@gmail.com. Powered by Blogger.

Srabi Kuliner Warisan Nenek Moyang

Siapa tak kenal srabi dari kota sampai pedesan, srabi ternal adalah makan pagi sehabia subih dibjualnya. Srabi-srabi masih mudah di jumpai di kebumen.
Pada tahun ini ada sebuah fistival srabi kebumen info lengkap bisa di lihat di situs www.kebumennews.com

Makan Khas Jawa WArisan Nenek Moyang

Sebut aja ketela rambat dan cang, menpunyai khas sendiri utk warga kampung saat pagi atau malam hari untuk saat ini sebagai cemilan.
Akan tetapi di masa lampu makan ini adalah makanan poko sehari -hari bukan cemilan. Ujar simbah saynem 87 tahun.

Satu Pohon bungga bergai Jenis

Pemandangan seperti ini bisa ada jumpai di trotohan jalan kota kebumen, yang di desain di pot-pot jalan utama kota kebumen dengan satu pohon beebagai jenis bungga tumbuhnya.

Kronologi Serangan TNI Terhadap Warga Urut Sewu di Wiromartan, 22 Agustus 2015

07.30 – 09.45 wib:  Massa rakyat warga desa, terdiri dari petani, pemuda dan perempuan; berkumpul di utara jalur Jln. Daendels di desa Wiromartan, Mirit;
-Pada saat yang sama, di ruas jalan seputar gerbang kantor Pemkab dan DPRD [timur alun2 Kebumen] baru selesai dilaksanakan apel pasukan ber-uniform PHH, polisi [termasuk polwan], tentara dan jajaran intel berpakaian sipil;
-  Di lokasi kumpulnya massa rakyat, disampaikan orasi pembekalan oleh Kades Wiromartan, Widodo Sunu Nugroho; dan membaca doa bersama dipimpin oleh ustadz setempat;
-  Massa rakyat sebanyak 100-an beriringan naik sepeda motor menuju ke lokasi pemagaran TNI di 750-an meter arah selatan;-  Diantara massa yang bergerak itu ada pula petani dari desa lain di kecamatan Mirit dan desa-desa lain yang ikut bersolidaritas, yakni dari Kaibon Petangkuran, Setrojenar, Ayamputih.
09.56 – 10.15 wib :  Massa rakyat tiba di lokasi dan langsung menuju titik pemagaran di sisi barat jalan akses menuju pesisir;
-  Di lokasi pemagaran terdapat 2 unit truk militer dan 1 alat berat eskavator tengah melakukan aktivitas pemagaran, sesuatu yang ditolak oleh warga terutama para petani pemilik dan penggarap lahan pertanian pesisir Urutsewu;
-  Beberapa petani yang tengah bekerja tak jauh dari lokasi pemagaran ikut bergabung dengan warga di lokasi pemagaran, di sebuah lahan tanaman cabe dan lahan-lahan tanaman lain pada zona itu yang juga terlanggar;
-  Massa rakyat beralasan pemagaran yang menerjang lahan-lahan milik petani sebagai ilegal, tak berijin, tanpa pamit atau pun pemberitahuan ke pemerintah desa setempat;
-  Salah satu warga yang membawa megaphone menyampaikan maksud kedatangan warga dan meminta pimpinan proyek pemagaran TNI menemui warga yang datang ke lokasi;
10.15 – 10.30 wib :  Kades Wiromartan Widodo Sunu Nugroho yang mengiringi warganya, dengan berpakaian dinas Kades, menyampaikan orasi melalui megaphone diantara warga dan pasukan militer dari satuan Zipur;
-  Dalam orasinya Kades menyampaikan pandangannya, tentang tiadanya dasar legalitas pelaksanaan proyek pemagaran, tanpa pemberitahuan ke pemerintah desa, dan hal-hal lain yang justru mencederai profesionalitas institusi TNI sendiri;
-  Kades juga meminta berkomunikasi dengan komandan yang bertanggung jawab memimpin pelaksanaan proyek pemagaran di lokasi pesisir desa yang menjadi bagian wilayah desanya itu;
-  Seruan permintaan Kades ini dibalas dengan suara musik dangdut dengan dukungan sound-system power besar yang rupanya telah disiapkan tentara di lapangan;
-  Pada rentang waktu yang sama, aktivitas eskavator dengan roda berantainya menggilas tanaman tetap berjalan sebagaimana sebelumnya, yakni mengangkut dan membongkar bawaan material pemagaran,
-  Atas fakta lapangan ini, massa rakyat yang melihat spontan meneriaki kerusakan tanaman cabe milik petani;
10.30 – 10.40 wib :  Pada saat Kades Wiromartan masih menyampaikan orasinya dan permintaan untuk berkomunikasi dengan komandan lapangan tak digubris, tentara merangsek maju menutup titik pemagaran;
-  Dari jarak 200-an meter arah barat, bergerak pula segerombolan tentara yang tengah menuju lokasi titik pemagaran;
-  Kades Wiromartan yang masih mencoba menyerukan agar tentara tidak bertindak kekerasan, malah langsung dijawab dengan aksi pemukulan yang membabi-buta;
-  Pukulan ini melukai kepala Widodo Sunu Nugroho, dan darah mengucur menutupi wajahnya yang membuat Kades ini menyingkir tapi tak melarikan diri dari lokasi karena melihat warga desanya juga dipukuli pentungan tentara;
-  Sejauh 7 meter dari titik penyerangan pertama, terlihat seorang pemuda dipukul keroyokan oleh tentara, terjatuh dan diinjak-injak sepatu lars. Korban ini jatuh pingsan di lokasi saat itu juga;
-  Ada belasan lagi warga lainnya, termasuk perempuan, tercerai-berai kena pukulan toya tentara, terdengar pula suara tembakan peluru hampa di lokasi;
-  Kebrutalan militer ini menyusul menimpa Kades sehingga akhirnya Widodo Sunu Nugroho pun jatuh pingsan;
10.45 – 11.00 wib :  Kades Wiromartan bersama 1 warga yang jatuh pingsan di lokasi serangan militer, dievakuasi dengan menggunakan sepeda motor ke Puskesmas Mirit;
-  Saat warga mengevakuasi korban yang membutuhkan pertolongan ini, ternyata ada mobil patroli polisi yang hanya diparkir diam dalam jarak 100 meter sebelah utara lokasi serangan, tanpa melakukan tindakan apa pun.  ( AP45 )

Karnaval HUT RI Ke-70 Tidak Sinkron dengan Tema

Kebumen-Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke- 70 yang jatuh pada 17 Agustus 2015 pemerintah Kabupaten Kebumen merayakan dengan megadakan tradisi tahunan yakni karnaval. Karnaval yang diadakan Rabu (19/08) bertema “ Ayo Kerja“. Namun, ketika memperhatikan dari berbagai sisi karnaval kali ini banyak yang tidak sinkron dengan tema karnaval. Peserta karnaval justru lebih banyak mempromosikan kekhasan yang dimiliki oleh masing-masing peserta karnaval, baik dalam kreatifitas membuat ide dan menunjukan kemegahan bangunan dalam bentuk miniatur ataupun kesenian yang dimiliki oleh peserta karnaval.
Seorang pengunjung karnaval saat ditemui KebumenNews.com, Udin (40) dan Sarif (20)  menyampaikan tema “Ayo bekerja” tidak mengetahui maksud dan tujuannya, karena tampak tidak mengajak bekerja. “Seharusnya tema ayo bekerja menampilkan hal yang mengajak untuk bekerja, misalnya petani ya bertani, nelayan ya menangkap ikan, pedagang ya berdagang, dan yang masih menganggur ya bekerja membantu membantu orang tua” tegas Udin.
Sarif menambahkan pemerintah mengajak ayo bekerja tetapi menyediakan lapangan pekerjaan. “Pemerintah juga tidak menyediakan lapangan pekerjaan koh, ayo kerja. mau kerja apa!” imbuh Sarif.
“Harusnya pemerintah ketika membuat tema ayo kerja pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan bagi jutaan pengangguran” ujar Sarif.
Sementara Barok warga desa Wotbuwono menambahkan tema Ayo kerja bisa menjadi bahan refleksi bersama karena masyarakat sendiri sudah bekerja, hanya saja tidak bekerja di lembaga pemerintah maupun perusahaan swasta.
“Yang disebut kerja itu yang bagaimana?.” ujar Barok sambil menggerundel ( bahrun )

Kesenian Asli Kebumen Yang Me-nusantara, Berawal Dari Sejarah Perlawanan

Kebumen – Jika anda mencari tentang kesenian rakyat yang asli Kebumen bukan ndolalak, karena itu milik Purworejo, bukan Jaipongan karena itu dari Jawa Barat ukan rongeng karena itu dari Banyumas. Tetapi anda harus memperdalam tentang Seni Cepetan Alas yang ternyata asli Kebumen. Cepetan alas ini merupakan tarian yang sarat makna karena diawali dari perjuangan melawan Jepang.
Cépét yaitu kesenian tradisional di desa-desa di Karanggayam seperti Karanggayam, Kajoran dan Watulawang. Kesenian ini dimainkan oleh 12 orang. Para pemain memakai topeng raksasa. Rambutnya terbuat dari duk (sabut pohon aren) dan pemainnya mengenakan pakaian hitam, dan memakai sarung sebagai blebed di pinggang. Tarian diiringi musik tradisional yaitu kentongan, jidur (kendang gede) dan drum bekas. Cepetan alas oleh sebagian masyarakat di sebut juga Dangsak di desa Watulawang sudah ada sejak tahun 1960-an didirikan oleh Parta Wijaya (Alm), dan turun temurun sampai sekarang.
Di Watulawang para pemain seni ini, pentas hanya setahun sekali, tepatnya pada perayaan 17 Agustus. Dalam peringatan 17 Agustus, Cépét merupakan menu wajib yang harus di mainkan, mengiringi anak sekolah SD Watulawang yang konvoi mengelilingi desa, bahkan sampai ke desa lain di Peniron.
Saat mau pentas, para rombongan cépét biasanya sudah ngumpul pagi- di rumah Ketua rombongan (Dawintana ) dan memakai seragam dan aksesoris perlengkapannya, kemudian rombongan berangkat untuk mengikuti upacara peringatan 17 Agustus di SD Negeri Watulawang, bersama rombongan kuda lumping dan anak-anak sekolah.
Kemudian di lanjutkan dengan konvoi, rombongan cépét selalu berada di depan, dan di ikuti rombongan anak sekolah, dan paling belakang rombongan kuda lumping. Di perjalanan kadang pemain cépét ini sudah ada yang kesurupan, dengan sautan suara yang menyeramkan, mereka mengerang- ngerang laksana raksasa, semakin menambah keseraman terutama bagi anak kecil yang melihat.
Sesampainya di lokasi, di bakarlah kemenyan oleh sang pawang, terus mereka berjoged (Ngibing,jawa ) sesuai perannya, dan kesurupan pun makin menjadi- jadi, suasana makin menyeramkan, para pemain yang kesurupan itu mulai makan sesaji kumplit yang di sediakan di meja kusus tempat sesaji.
Mereka makan serba aneh, daun papaya mentah, kembang, minyak wangi, kemenyan, dan makanan makanan lain, bahkan ada juga yang makan ayam hidup. Penonton juga kadang ada yang kesurupan. Bagi anda yang berminat menyaksikan pentas Cépét, datang saja ke Desa Watulawang atau Kajoran pada setiap 17 Agustus, karena kesenian ini hanya pentas pada hari itu. (A-42/Brs/Opal/Diolah dari berbagai sumber).

Pesta Rakyat Sesunguhnya

Suara Muda >> Lelah karena sabar menunggu jalannya karnaval yang tak kunjung tiba,  tidak menjadikan warga putus asa untuk menikmati karnaval dalam rangka meramaikan peringatan 17 Agustus.
Karena di sini lah masyarakat bisa menikmati pesta rakyat yang sesungguhnya dengan disajikan kreatif masing-masing peserta karnaval dari lembaga maupaun masyarakat biasa, ikut andil bagian meramaikan HUT RI. Adalah Eni salah satu pengujung yang setia hadir di even karnaval bersama keluarganya menganggap karnaaval ini sebagai wahana silaturohim dan mengenalkan kepada anak cucu tentang perjuangan para pahlawan di masa lalu.
Antusiasme masyarakat menyaksikan karnaval bisa dilihat bukan hanya ribuan tetapi bisa ratusan ribu manusia memadati kanan-kiri jalur karnaval. Mereka berangkat dari gunung, pesisir, wilayah perkotan bahkan sampai pedesan ikut hadir di acara karnaval. Hal ini membuktikan bahwa karnaval ini adalah pesta rakyat sesungguhnya. Mereka berangkat tanpa ada intruksi dan perintah untuk hadir. dengan sendirinya hadir untuk meramaikan peringatan HUT RI ke 70,
Melalui karnaval ini anak-anak jadi tahu program pemerintah. Apalagi karnaval tidak hanya menampilkan hal-hal yang monoton tapi juga bervariasi termasuk berbagai hasil bumi, kesenian, kreativitas anak muda, tempat sekolah dan perkantora/lembaga secara langsung didesain miniatur. ( Bram )Kebumen News

Keindahan Laguna Pantai Wawar Lembupurwo


Kebumen News – Ternyata masih banyak lokasi wisata di Kabupaten Kebumen yang jarang disentuh dan dikunjungi wisatawan. Hal ini disebabkan karena tidak dipublikasikan oleh parapihak. Salah satu yang tidak pernah terdengar tentang pantaiadalah Laguna Pantai Wawar di desaLembupurwo Mirit Kebumen.
Sungai Wawar yang hendak membuang airnya ke laut, tidak langsung masuk ke laut, sungai harus berputar-putar dulu melewati gundukan pasir yang didorong oleh ombak terus-menerus. Terbentuknya lingkaran-lingkaran sungai dan gundukan-gundukan pasir yang ditumbuhi rerumputan dan semak. Selain itu di kawasan ini juga ditanam berbagai jenis tanaman bakau yang berfungsi mengurangi erosi pantai Wawar. Indah sekali menjadi objek wisata Laguna. “Namun diperlukan akses jalan yang mudah untuk mencapainya.” Tutur Mukhlasin warga Desa Rowo. (Brs)
 

.

Support : Creating Website | bahrun grup | simponi
Copyright © 2011. Suara Muda Kebumen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by cs
Proudly powered by Blogger