Headlines News :
BRAM Grup bahruninfo@gmail.com. Powered by Blogger.

Festival Seni Tradisi “Kothek Lesung” Meriah

BONOROWO – Sebanyak 12 kelompok seni tradisi gojek atau kothek lesung berpartisipasi dalam Festival Kothek Lesung yang digelar di halaman kantor Kecamatan Bonorowo Kebumen. Festival Lesung yang digelar dalam rangka peringatan 71 Tahun Kemerdekaan RI untuk tahun 2016 menjadi spesial, karena untuk kali ini festival dilaksanakan untuk tingkat kecamatan.
Ke 12 peserta Festival Lesung merupakan kontestan dari 11 desa yang ada di wilayah Kecamatan Bonorowo, ditambah 1 peserta partisipan yang merupakan gabungan Guru TK di wilayah kecamatan setempat. Tiap kelompok kontestan mewakili satu desa, masing-masing dari desa Patukrejo, Ngasinan, Pujodadi, Rowosari, Mrentul, Bojokkidul, Bonjoklor, Balorejo, Tlogorejo, Sirnoboyo dan Bonorowo sendiri.
Camat Bonorowo Gigih Basokayadi, S.Sos mengapresiasi Festival Lesung ini dan ikut mempersiapkan penyelenggaraan festival hingga tingkat kecamatan.
“Dibutuhkan waktu 3 tahun, dari tahap penggalian potensi, motivasi  sampai memfasilitasi hingga mencapai asumsi layak festival tingkat kecamatan”, paparnya. Camat yang memiliki basis keahlian spesifik bidang kesehatan anestesi ini berpomeo “Bona”, akronim dari “Bonorowo Bermakna” dalam memotivasi masyarakat di wilayah kerjanya.
Sebagaimana diketahui bahwa pelaksanaan festival serupa memang rutin digelar setahun sekali, namun sebelumnya hanya dihelat dalam tingkatan desa, dengan peserta perwakilan dukuh. Begitu pula yang pernah digelar di Desa Mrentul dan desa lainnya, pada tahun-tahun sebelumnya.

Penonton itu Apresian Kritis 
Festival yang komposisi tiap kelompoknya didominasi oleh perempuan ini bukan saja nampak meriah dalam perhelatan festivalnya, namun juga memberi manfaat dari aspek pembelajaran dan media ekspresi maupun apresiasi seni yang meningkat di tiap komunitas tradisional yang ada. 
Saat KebumenNews meliput perhelatan festival unik ini, seringkali muncul sorak-sorai spontan yang meskipun meriah namun terkesan aneh karena berkonotasi kritikan. Ketika dikonfirmasi ke massa yang penonton yang memenuhi serambi joglo hingga halaman kantor kecamatan hasil pemekaran wilayah di Kabupaten Kebumen ini; tahulah kenapa sebabnya.
“Iramanya salah, tak kompak”, celetuk penonton menimpali sorak-sorai.
Ini menandakan bahwa antara pelaku seni tradisi Kothek Lesung dan penontonnya berada pada wilayah persepsi yang setara. Meskipun dalam festival ini ada penilaian dari Tim Yuri yang terdiri dari 3 orang, namun penonton juga memiliki bekal pengetahuan dan bahkan skill dasar untuk penilaian kolektif yang menghasilkan penampil faforit… [Kn.04]

Penghargaan Film Dokumenter “URUT SEWU” Terbaik di Indonesia

Seperti biasanya, Festival Film  Pelajar Jogja (FFPJ) yang hadir setiap tahun diikuti oleh pelajar dari penjuru Indonesia dari Aceh sampai Papua, bertemu dalam ajang  Festival  Film yang diselenggarakan di Pondok Pemuda Ambar binangun, Bantul,  Jogjakarta  sejak 17-18 Desember 2016. kegiatan selama 2 hari pemutaran  film-film yang lolos dalam ajang  FFPJ dan Seminar  Nasional, Kelas Persahabatan dan Perdamaian,  Api Ekspresi, Temu Komunitas, Forum Pendidik serta Penganugerahan Film Terbaik  FFPJ  2016.
Kegiatan yang memasuki tahun ke-7 ini mengusung tema besar “Persahabatan dan Perdamaian”. Jika di tahun-tahun sebelumnya, kompetisi hanya diperuntukan untuk SMP dan SMA/sederajat, pada tahun ini dibuka kompetisi video untuk kategori  anak SD.
Minggu, 18 Desember 2016 puncak perayaan  Festival Film  Pelajar Jogja (FFPJ) 2016. Dimanak para peserta menantikan penganugerahan  Film-Film  Terbaik ajang  FFPJ 2016. Diantaranya adalah Penghargaan untuk  Video  Eksperimental,  Penghargaan untuk  Video  Musik,  Penghargaan untuk  Video Persahabatan dan Perdamaian, Penghargaan Film  bertema  “Anti  Korupsi”  Penghargaan  Film bertema Perempuan, Penghargaan Film Anak, Penghargaan Film kategori Dokumenter serta Penghargaan  Film  kategori Fiksi.
Film berjudul  URUT SEWU  karya Dewi Nur Aenisiswi  SMK N1 Kebumen berhasil raih penghargaan sebagai Film  Dokumenter Terbaik 1 dan Penghargaan khusus dari Watch Docsebagai  film pilihanter baik.  Film yang  digarap oleh pelajar SMKN1 Kebumen selama melaksanakan masa prakerin  di Sangkan paran Cilacap ini menceritakan tentang persoalan Petani Urut Sewu  yang sebagianlahan pertaniannya di  gunakan oleh TNI sebagai tempatlatihan.
Hal  ini menyulut perlawanan warga tatkala TNI  melakukan pemagaran di lahan pertanian milik warga. Film berdurasi pendek ini sebelumnya telah mendapat penghargaan di ajang Documentary  Days  FEB  UI  Jakarta  beberapa waktu lalu. Kini Film Dokumenter ini kembali raih penghargaan dalam ajang  Festival  Film  Pelajar Jogja  2016.
Kebahagiaan ini tentunya sangat dirasakan oleh Dewi Nur Aeni sebagai  filmmaker berstatus pelajar. Dirinya berharap pesan  yang  ingin disampaikanya benar-benar bisa tersampaikan. “Saya ingin agar seluruh masyarakat  tau  kondisi  di  Urut Sewu,  salah satunya ya melalui media  film,  bisa menyampaikan pesan-pesan tersebut.  Alhamdulilah  film ini mendapat apresiasi  di  berbagai ajang  festival  di  Indonesia.”  Ungkap gadis cantik berkerudung  yang masih sekolah kelas XII di SMK N1 Kebumen.

Menggali Tugu Walet Sebagai Vocal Point Kebumen

Tugu Lawet atau Tugu Walet atau Kupu Tarung adalah sebuah tugu atau monumen yang berada di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Keberadaan tugu ini berkaitan erat dengan potensi yang dimiliki Kabupaten Kebumen yaitu penghasil sarang Burung lawet. Burung Lawet adalah Burung walet dalam bahasa setempat, burung laut dari keluarga Apodidae yang sarangnya selalu diburu dan harganya sangat mahal. Sarang Burung walet mengandung glikoprotein yang sanggup meregenerasi kolagen, salah satu protein dalam organ tubuh manusia, yang membuat kulit halus dan cerah.
Tugu Lawet berada di simpang empat pusat Kota Kebumen sehingga akan dapat dijumpai dengan mudah. Tugu Lawet dibuat untuk menggambarkan aktivitas serta perjuangan para pengunduh sarang Burung walet di goa-goa pada tebing karang pesisir selatan Kabupaten Kebumen yang penuh tantangan serta risiko. Goa-goa yang dimaksud tersebut merupakan goa-goa yang ada di peisir selatan Kecamatan Ayah dan Kecamatan Buayan. Goa-goa tersebut dikenal dihuni oleh Burung walet. Bentuk Tugu Lawet yang tidak beraturan menggambarkan kontur karang pesisir selatan Kebumen terjal. Terdapat lima patung manusia yang menggambarkan para pengunduh serta dua ekor patung Burung walet raksasa di puncak tugu.Lima patung manusia yang hanya mengenakan celana pendek untuk menggambarkan kesederhanaan para pengduh jaman dahulu.
Dahulu Tugu Lewat Kebumen menjadi simbol kemakmuran masyarakat Kebumen dari bisnis sarang burung, dan karenanya menjadi tugu kebanggaan. Kini Tugu Lawet menjadi tugu nostalgia, dan tugu pengingat bahwa eksploitasi anugerah alam yang tak terkendali cepat atau lambat akan berujung pada penyesalan dan pewarisan kerusakan bagi keturunan [1]
Hebatnya orang kebumen dapat terbaca melalui ekspresi tugu walet yang penuh historis dan artikulatif. Hal ini dapat untuk memantik generasi kebumen menteladani keuletan, kejelian dalam membangun etos kerja. Tugu walet bukan sekedar icon kota atau vocal point (sudut pandang) melainkan diskripsi filosofis mentalitas orang kebum yang penuh heroik/militansi, komitmen dan spiritual (tirakat doa) dlm setiap perjuangan langkah hidup guna meraih apa yang diharapkan. Besarnya risiko dengan taruhan jiwa raga bukan penghalang yg harus ditakuti. Hal ini dapat divisualisasikan pada tugu walet kebumen yang menggambarkan orang sedang mengunduh sarang burung di lokasi yang sangat berbahaya di ujung gua tebing bebatuan di aliri gelombang laut yang garang, wingit (angker) dan lika liku. Kendati dengan berdarah darah teryata tidak membuat gentar. Semua harus dilewati stapak demi setapak melebihi bahayanya berjalang diatas lereng terjal ( downhill). [2]
Hal ini Menjadi keniscayaan bagi generasi penerus masyarakat dan pemerintahan untuk menjaga dan melestarikan serta merawat agar lebih indah tanpa harus mengurangi makna kontenya. Agenda redesign tugu walet yang kesekian kalinya patut diapresiasi apalagi dengan membuka keterlibatan publik secara partisipatif melalui sayembara desain gambar/grafis.
Teguh/Tan sebagai salah satu pemrakarsa tugu walet menyambut gembira rencana memper cantik tugu walet sehing mampu menjadi distinction keunikan kebumen. Pesan beliau sebaikya tugu walet jangan dimaknai dgn cat warna yg menimbulkan tafsir politik pada warna patung gambar orang yang sedang mengunduh sarang. Kembalikan pada warna yang aslinya. Itu maklumat beliau sebagai tokoh pemrakarsa.[3] 
  1. Wikipedia, (14/12/2016.1023.PM)
  2. Iman Satibi Akademisi
  3. Teguh pemrakarsa tugu walet

Kericuhan Warnai Public Hearing RAPBD

Kericuhan terjadi saat Public hearing (dengar pendapat) tentang Rancangan Peraturan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kebumen tahun 2017  di ruang rapat Paripurna DPRD Kebumen, Jumat (16/12/2016). Hal tersebut dipicu permasalahan draft nota keuangan RAPBD yang diberikan kepada sejumlah peserta sidang tidak sesuai dengan yang semestinya. Bahkan, salah satu anggota DPRD, Makrifun yang juga anggota Badan Anggaran meminta agar nota keuangan ditarik dari peserta sidang. Makrifun sangat menyayangkan atas kejadian yang memalukan terjadi pada rapat Paripurna tersebut. kejadian tersebut seharusnya tidak terjadi dalam sidang DPRD Kebumen.
“Saya minta nota keuangan ditarik dari seluruh peserta sidang dan diganti dengan nota keuangan yang sesuai,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut saat menginterupsi sidang.
Sementara peserta lainnya, Fuad yang merupakan perwakilan LSM Forum Masyarakat Sipil (Formasi) menyebut bahwa RAPBD tahun 2017 dapat dikatakan cacat hukum. Pasalnya, pembahasan mengenai RAPBD sudah salah sejak awal.
“Kesalahan itu meliputi segala aspek seperti prinsip, kepatuhan terhadap perundang-undangan yang berlaku, administrasi, substansi, proses, hingga mekanismenya,” ungkap Fuad.
Kesalahan tersebut menurut Fuad mengenai keterlambatan penyerahan draft Raperda karena perubahan Satuan Organisasi dan Tata Kerja sesuai PP Nomor 18 Tahun 2016 namun dalam konsideran PP tersebut tidak dicantumkan. Fuad menambahkan, dalam konsideran nomor 34 tertulis Perda Nomor 17 tahun 2010 tentang RPJMD tahun 2010-2015 masih digunakan sebagai acuan RAPBD tahun 2017. Padahal RPJMD tersebut sudah tidak lagi digunakan.
“Draft Raperda ini hanya copy paste,” tegas Fuad.
Public hearing tersebut dihadiri oleh legislatif, eksekutif, LSM, Camat dan perwakilan kepala desa. Hingga batas waktu yang ditentukan draft nota keuangan yang diinginkan belum juga ada, maka Public hearing dihentikan pada pukul 16.00 WIB. Kemudian dilanjutkan pembahasan lebih lanjut oleh pimpinan DPRD, Badan Anggaran, eksekutif dan tim penyusunan RAPBD usai Public hearing. (LHR/Kn07)
 sumber >> (kebumennews.com) 

Wahyu Cakraningrat; Antara Tontonan dan Tuntunan

Dalam rangka syukuran pasca pelantikan Bupati Kebumen dan wakilnya, dihelat pementasan wayang kulit dengan dalang lokal Eko Suwaryo (20/2) di alun-alun Kebumen. Dalam pementasan itu dalang dari Jatiroto Buayan yang tengah “naik daun” ini membawakan lakon “Wahyu Cakraningrat”. Adakah korelasi cerita pewayangan ini dalam konteks Kebumen kekinian dengan Bupati yang baru? Jika ada, seberapa dalam makna tuntunan dimensi-dimensi wayang terhadap percaturan seputar kepemimpinan daerah dengan slogan “beriman” ini?
Meski secara umum Ki Dalang Eko Suwaryo yang masih terbilang muda ini teguh mengimani pakem klasik jagad pewayangan, dia tak keberatan untuk  mengadopsi trend pementasan pembaharuan poles ala Manteb Sudarsono maupun Entus Susmono; dua dalang kondang di mata publik yang sebelumnya pernah beberapa kali mementaskan kepiawaiannya di Kebumen. Tentu, Eko Suwaryo berbeda dengan ke dua dalang itu.
Pementasan dengan audiens berjubel yang menyusut pada pasca tradisi limbukan dan menyusut lagi setelah lewat fase goro-goro merupakan gejala sosiologis massa apresian pada umumnya, dimana-mana. Secara kuantitas mungkin ini merupakan sinyalemen awal surutnya salah satu dari dua aspek terpenting wayang; tuntunan dalam tontonan.
Namun secara kualitas, pementasan lakon “Wahyu Cakraningrat” emang sarat  wewarah dalam konteks kepemimpinan daerah, memiliki taut korelasi yang kuat hari-hari ini.
Dan sanggit sang Dalang Eko Suwaryo dengan konvensi tradisi jejeran dan pathet telah mentransformasikan pertunjukkannya, di tengah audiens dengan spiritualitas Jawa kekinian yang nampak surut militansinya.

Cakraningrat Wahyu Yang Tak Diburu
DSCN9692
Dalam “realitas” genesis kewahyuan, Cakraningrat itu seorang dewa yang turun dari alam kahyangan dengan nama Batara Cakraningrat. Berbeda dengan wahyu dalam jagad pewayangan yang kebanyakan diturunkan oleh Batara Wisnu, maka Cakraningrat itu diturunkan oleh Batara Kamajaya dan Kamaratih; istrinya.      
Wahyu Cakraningrat disebut pula wahyu keraton, sebab dalam mithologi Jawa Wahyu Cakraningrat merupakan abstraksi yang menghimpun karunia-karunia Hyang Wenang [Allah_pen] dari muatan aspek rajawi.
Sanggit sang dalang mengisahkan perjalanan Sang Cakraningrat sebagai seorang dewa yang atas wenang Hywang Pada harus menitis pada ketiga pemburunya yang tengah bertapa di bumi Mayapada.
Ketiga orang itu adalah Lesmana Mandrakumara, putra Suyudana raja Astinapura. Kemudian tercatat pula Samba ksatria Parang Garudha anak dari Prabu Kresna raja Dwarawati. Yang ketiga adalah Abimanyu ksatria Plangkawati keturunan Arjuna dari istri Subadra. Ketiganya manekung, mesu-raga, mesu-budi, dalam rangka mendapatkan wahyu yang jadi muatan simbol dan abstraksi dari kehendak kesejahteraan manusia semesta.
Karena wahyu ini merupakan abstraksi yang memuat amanah keagungan semesta, maka secara epika nalar tentu layak menjadi pertimbangan paling utama bagi siapa pun yang menghendakinya. Di sisi lain, kehendak Hyang Pada Wenang akan kelestarian bumi yang harus manifest ke dalam kuasa kebijakan dalam menata dan mengatur (aspek rajawi) bagi Sang penerimanya. Maka Batara Cakraningrat menguji ketiga ksatria pemburu yang menunggu turunnya.
Apakah kesadaran spiritualitas Jawa yang dipertuntunkan dalam tontonan wayang dengan lakon “Wahyu Cakraningrat” seperti ini telah jadi resensi dan referensi pada syukuran pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kebumen?
Saat menjelang fajar subuh, makin sedikit orang menonton pertunjukanNya

NU dn Muhamadiyah Bersatu Menbangun Daearah

Acara inti malam tasyakuran atas dilantiknya Yahya Fuad dan Yazid Mahfud diisi tausiyah oleh dua Pimpinan Wilayah Jawa Tengah, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Ahmad Tafsir Ketua PW Muhammadiyah Jawa Tengah menyatakan bahwa NU dan Muhammadiyah di Kebumen ini akhirnya bersatu. Dia berharap jangan hanya karena ada kepentingan yang sama, tetapi selamanya selalu bersama.
“NU dan Muhamadiyah itu sesuai simbol mereka ibarat Bumi dan Matahari, matahari tanpa bumi tidak berfungsi, demikian juga bumi tanpa matahari jadi mati” Tutur Ahmad Tafsir dalam tausiyahnya. Sementara Ketua PWNU Jawa Tengah Abu Hafsin MA menyataan Kebumen menjad barmeter Nasional untuk bersatunya NU dan Muhammadiyah. “Inilah satu-satunya di Indonesia NU dan Muhammadiyah bisa bersatu menjadikan Bupati Kebumen, nanti semoga bisa di bawa ke Jawa Tengah bahkan Nasional” Tutur Abu Hafsin pada tausiyah kedua kebumen .

Tanpa Semen Hidup, Tanpa Air Mati

Korelasi slogan yang diduplikasi dari twitter Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia dan dilansir di rapat warga sebelum ini; begitu menginspirasi kesadaran banyak orang. Ini seperti menggugah kesadaran pentingnya ekologi lingkungan dan ruang hidup bersama.
Dalam konteks perijinan operasionalisasi industri semen, khususnya pt Semen Gombong, kesadaran ekologis demikian menemukan taut dan momentum serta manifestasinya dengan kebangkitan aksi-aksi massa. Serbuan kekuatan kapital pada sektor tambang semen di Jawa khususnya, memang tengah menggila.
Berbarengan dengan itu perlawanan massa rakyat anti tambang semen di berbagai daerah seperti Ajibarang, Rembang, Pati, Blora, Grobogan, Wonogiri, Tuban, dan Gombong selatan sendiri; rupanya belum cukup menyadarkan pemerintah setempat dalam merumuskan kebijakan terkait tata kelola sumber daya alamnya. Padahal potensi alam di kawasan karst itu bukan lah melulu bahan tambang yang depositnya terbatas, rentan dan tak terbarukan.
Menanggapi aksi massa hari ini (10/2) yang pada intinya menolak ijin lingkungan pt Semen Gombong, plt Kepala BPMPT Kebumen pun masih terkesan menyikapinya dengan pendekatan prosedural belaka. Retorika pernyataannya menunjukkan lemahnya komitment pemerintah dalam hal menjaga kelestarian ekologi lingkungan
 

.

Support : Creating Website | bahrun grup | simponi
Copyright © 2011. Suara Muda Kebumen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by cs
Proudly powered by Blogger