Headlines News :
Home » , , » Menanti Kepemimpinan Kaum Muda

Menanti Kepemimpinan Kaum Muda

Written By Bahrun Ali Murtopo on October 24, 2013 | 10/24/2013

SuaraMuda-Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas meminta Megawati Soekarnoputeri untuk tidak lagi maju dalam Pilpres 2014. Sudah saatnya partai memberikan ruang lebih luas kepada anak muda untuk maju memimpin bangsa ini.

Pernyataan tersebut menarik. Sebagai suami, Taufiq bukannya mendukung, malah ia meminta sang istri, yang kini menjabat ketua umum Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) untuk tidak lagi maju dalam Pilpres 2014. Usia Megawati yang sudah 68 tahun pada 2014 adalah alasan di di balik permintaannya tersebut.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini memang berharap harus ada kaderisasi di tubuh partai berjuluk Moncong Putih itu. Maklum, selain Megawati Soekarnoputeri, lebih separuh dari total 27 orang yang duduk di jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP hasil Kongres III (2010) lalu telah berusia di atas 50 tahun. Paling tua adalah Ketua Bidang Kehormatan Partai Sidharto Danusubroto yang telah menginjak usia 74 tahun. 

Sementara yang paling muda adalah Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antar-Lembaga Negara Puan Maharani. Putri pasangan Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri ini kelahiran 1973. 

Dipilihnya Tjahjo Kumolo untuk menempati posisi sekretaris jenderal DPP PDIP periode 2010-2015 seakan kian menegaskan dominasi kaum tua di tubuh partai ini. Usia Tjahjo Kumolo jauh lebih tua ketimbang sekretaris jenderal sebelumnya, Pramono Anung.  Sesungguhnya ada kader-kader muda potensial, seperti Ganjar Pranowo dan Budiman Sudjatmiko, namun nama keduanya hilang dalam struktur kepengurusan DPP kali ini.

Punya Landasan Historis
Tak bisa dipungkiri bahwa peran kader muda dalam panggung politik nasional kini semakin memudar. Sebab utama dari pudarnya jiwa muda bangsa dewasa ini adalah dominasi kaum tua dalam struktur politik dan pemerintahan nasional, terutama di jajaran elite partai politik. Para politikus senior seolah tak rela perannya di panggung politik segera beralih ke generasi muda.

Padahal, sejujurnya, tak sedikit anak-anak muda bangsa yang berpotensi menjadi pemimpin negeri ini. Soal kemampuan, keberanian, visi, cara pandang, kaum muda kita saat ini tak kalah dengan kaum muda di masa lalu. Seperti kata Taufiq Kiemas, yang mereka butuhkan saat ini adalah “ruang” atau kesempatan untuk berkreasi. Dari sisi spirit, kaum muda sekarang juga diyakini lebih mampu bergerak cepat dan cekatan dalam mengambil inisiatif serta merumuskan kebijakankebijakan strategis. Sedikit saja ruang dan kesempatan diberikan, mereka pasti akan bisa lebih berperan dalam memacu laju pemulihan kehidupan politik dan ekonomi bangsa.

Sejarah sudah membuktikan itu. Perjalanan bangsa ini tak pernah jauh dari peran-peran penting yang dimainkan generasi mudanya. Mereka selalu ada di balik setiap episode penting perjalanan bangsa. Predikatnya sebagai agents of change benar-benar terimplementasi dalam momen-momen yang sangat menentukan dalam perjalanan bangsa ini. Boedi Oetomo yang didirikan pada 20 Mei 1908 (yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh pemuda.

Kongres Pemuda II pada 1928 – yang kita rayakan setiap 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda – telah menghasilkan sebuah dokumen sejarah yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Tokoh-tokoh muda ketika itu secara gagah berani dan terang-terangan menempatkan pemuda sebagai kelompok yang mendukung eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa.

Lalu, Revolusi Kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945 adalah panggungnya anak-anak muda bangsa, sehingga Benedict Anderson pun tak ragu menyebutnya sebagai revolusi pemuda. Lebih dari itu, para pendiri republik ini pun adalah tokoh-tokoh muda yang punya semangat, keberanian, dan idealisme yang luar biasa. Bung Karno diangkat menjadi presiden pada usia 44 tahun. Sementara itu, Bung Hatta diangkat menjadi wakil presiden saat ia masih berusia 43 tahun. 

Ketika Indonesia semakin bobrok dan korup pada 1966, kaum muda lagi-lagi menjadi motor penggerak perubahan sosial. Rezim yang elitis dan tidak memperhatikan kondisi rakyat secara riil dapat ditumbangkan oleh kekuatan pemuda. Apa yang terjadi pada 1966 kembali terulang pada 1998, dan kaum muda tetap memainkan peranan penting untuk bisa menggulingkan rezim Soeharto yang totaliter-otoriter-militeristik sekaligus sarat dengan korupsikolusi-nepotisme, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem yang lebih demokratis. Berbagai rekam jejak kaum muda di masa lalu di atas mengindikasikan bahwa bangsa Indonesia memiliki landasan historis kepemimpinan kaum muda yang sangat kuat.

Jalur Partai Politik
Namun, ketika Orde Baru naik panggung, peran kaum muda pun meredup. Tokoh-tokoh muda yang bersuara vokal dikucilkan dari lingkaran kekuasaan dan dunia pendidikan. Di bawah rezim represif Soeharto, tokoh-tokoh tua dijaga dan dipagari karena hanya merekalah orang-orang diajak berkompromi. Kehidupan politik bangsa Indonesia berjalan tanpa partisipasi luas kaum muda. Proses regenerasi dihambat secara sistematis dan struktural.

Hasilnya, seperti yang kita saksikan sekarang, yaitu tetap munculnya para politikus dengan kualitas dan watak masa lalu di langgam politik nasional era reformasi. Makanya sangat kuat kiranya alas an bagi bangsa Indonesia untuk kembali mempromosikan kaum muda di level kepemimpinan nasional. Untuk merealisasikan agenda strategis tersebut mutlak diperlukan political will dari kaum tua dan juga strong will kaum muda guna membuktikan bahwa dirinya bisa.

Hal lebih penting lagi adalah peranan partai politik dalam mendidik kader- kader muda guna mengisi kepemimpinan masa depan. Ini harus dimulai dengan sikap legowo-nya kaum tua dalam struktur politik dan pemerintahan nasional. Mereka harus dengan jiwa besar memberikan “panggung” lebih luas kepada kaum muda di level kepemimpinan nasional.

Keterlibatan kaum muda dalam struktur kepengurusan partai politik secara intensif, dapat menjadi momentum awal bagi mereka untuk mulai meretas (kembali) jalan menuju kepemimpinan nasional.

Penulis adalah peneliti politik pada The Habibie Center dan Fellow Paramadina Graduate School of Political Communication Inventor 
Share this post :
 
Support : Creating Website | bahrun grup | simponi
Copyright © 2011. Suara Muda Kebumen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by cs
Proudly powered by Blogger