Suara Muda
Headlines News :
BRAM Grup bahruninfo@gmail.com. Powered by Blogger.
Tridinamika Blog Kontes 2013
Showing posts with label warisan nenek moyang. Show all posts
Showing posts with label warisan nenek moyang. Show all posts

Tolak Tambang Semen, PERPAG Aksi Tanam Pohon



Kebumennews >> Untuk yang pertama kalinya, Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong [PERPAG] melancarkan aksi tanam pohon di Kawasan Bentang Alam Karst [KBAK] Gombong Selatan; Minggu [13/12]. Lokasi penanaman tepatnya di seputar Gua Banteng dan Gua Cocor, yang terletak di kawasan hulu pedukuhan Karangkamal, desa Sikayu, Buayan.
Rintisan aksi tanam pohon yang pertama kali dilakukan ini, melibatkan tak kurang dari 500an massa rakyat Desa Sikayu dan sekitarnya. Mulai dari anak-anak hingga orangtua ikut berpartisipasi, termasuk ibu-ibu yang sangat antusias mengikuti penanaman 1.500 pohon jenis jati. Anak-anak seusia SD hingga SMP bahkan juga nampak semringah terlibat kegiatan outbond di desanya. Beberapa dari anak-anak ini ternyata baru pertama kali melihat keelokan gua-gua karst yang tak terlalu jauh dari pemukiman penduduk setempat.
Menurut Wakil Ketua PERPAG Lapiyo yang saat aksi tanam pohon ini dilakukan tengah berada di Jakarta, pohon jati yang ditanam merupakan sumbangan dari Kementerian LH. Pada hari yang sama, Lapiyo juga tengah menemui dua pakar geologi dan lingkungan Indonesia di Jakarta guna menggalang dukungan dari keduanya.
Berkesinambungan
 Dalam aksi ini Ketua PERPAG Samtilar yang mengkoordinasikan aksi di lapangan, menjelaskan bahwa aksi tanam pohon ini sudah merupakan program konsolidasi organisasinya. Meskipun begitu, dia terkejut sekaligus bangga dengan respons dan keterlibatan warga yang berasal dari 6 pedukuhan.
“Rencana Perpag nantinya juga akan tanam pohon produktif, seperti duren”, terangnya. Saat ini telah terhimpun sekitar 400-500 batang pohon duren lokal. Ternyata buah duren lokal dari pohon yang tumbuh di kawasan karst Gombong selatan ini dipercaya banyak orang  memiliki citarasa yang khas.
Penanaman pohon jati di seputar Gua Banteng dan Gua Cocor ini diprioritaskan pada areal yang tanahnya belum dibeli oleh fihak pt. Semen Gombong. Namun penanaman juga dilakukan di lahan yang ditumbuhi pohonan, termasuk di areal yang telah ada pohon jati sejenis. Hal ini merupakan antisipasi agar saat pohon jati besar ditebang, telah ada pohon baru yang tumbuh sebagai penggantinya. (AP)

Kebumen Raih Penghargaan “Nagasasra Award” 2015 Dalang Cilik

(Pekunden, Kutowinangun)  dan Kethuk Guritno (Adikarto, Adimulyo); masing-masing sebagai Penampil Terbaik 1, Penampil Terbaik 2 dan Penampil Faforit 3. Seorang dalang anak Kebumen lainnya, Bambang Priambodo dari Prembun gagal meraih point kejuaraan.
Penyelenggara Lomba Dalang Anak 2015 tingkat Jateng-DIY adalah Rumah Budaya Nagasasra, Banjarnegara. Sedangkan penilaian dipercayakan pada 3 orang pakarseni pedhalangan sebagai tim yuri dari Banjarnegara, Purwokerto dan Yogyakarta. Lomba ini diikuti oleh 11 peserta berasal dari Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen dan Yogyakarta.
Pengiriman 4 delegasi Dalang Anak ini difasilitasi oleh Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen, dengan cara bahu membahu oleh Ketua Umum DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo beserta segenap jajaran pengurus lainnya, mengingat tak ada dukungan dana dari pemerintah kabupaten untuk tahun 2015 ini. Sebelum pengiriman 4 dalang anak ini, DKD menggelar seleksi atas 10 dalang anak dari berbagai daerah di Kabupaten Kebumen. Dan dilanjutkan dengan pendalaman materi lomba di Padepokan Sehat Medika Karanganyar, Kebumen.

Lakon Dewaruci, Faforit Pilihan Peserta
Penyelenggara Lomba Dalang Anak 2015 yakni Rumah Budaya “Nagasasra” Banjarnegara, menyediakan 3 pilihan lakon pakeliran padat, yakni Babad Alas Wonomarto, Jabang Tetuko dan Dewaruci. Dari ketiga lakon ini, Dewaruci menjadi favorit yang banyak dipilih peserta.
Menurut salah seorang Yuri Lomba Dalang Anak 2015, Ki Sutarmo, pilihan lakon ini tak lepas dari sentuhan para pembina seni pedalangan dalam mempersiapkan anak asuhannya. Rupanya lakon Dewaruci ini memang dipandang paling memenuhi dua aspek pagelaran wayang; yakni aspek tontonan dan tuntunan.
Secara khusus, Ki Sutarmo mengaku salut dan sangat mengapresiasi atas penampilan 4 dalang anak yang menjadi delegasi dari Kebumen dalam lomba ini; yang memang tampil memukau di hadapan dewan yuri dan masyarakat penontonnya.
“Ini menjadi bukti eksistensi pembinaan seni pedalangan di Kabupaten Kebumen”, pungkasnya. (AP)

Kebumen Buka Kelas Gamelan Tradisional

Single content advertisement top
Kebumen – Pengurus Dewan Kesenian Daerah {DKD} Kebumen membuka kelas pembelajaran gamelan tradisional. Latihan bersama ini telah berjalan memasuki bulan ketiga, diikuti belasan orang termasuk beberapa pengurus DKD periode 2015 – 2018 yang bakal dilantik menjelang akhir bulan September ini.
Untuk kebutuhan berlatih memanfaatkan gamelan milik SMP Taman Dewasa dan Pemkab Kebumen yang sehari-hari berada di pendopo rumah dinas Bupati. Pengampu pelatihan terdiri dari 2 orang, yakni Bambang Budiono, dalang wayang kulit dari Jatijajar dan Sutardjo, praktisi gamelan dari Bumirejo Kebumen.
“Pembelajaran ini bersifat gratis, tanpa biaya,” jelas Pekik Sat Siswonirmolo. Ketua Umum DKD ini mensitir slogan “modal kemauan” dalam upaya melestarikan seni budaya tradisional.
Memupuk Spirit Kolaboratif
Meskipun pembelajaran seni gamelan tradisional ini fokus pada genre musik jawa tradisional, namun dalam prosesnya muncul keinginan untuk mengakomodir ide-ide kolaboratif. Peluang untuk mengkolaborasikan seni tradisional dengan paduan kontemporer sangat dimungkinkan ke depan. Beberapa yang aktif berlatih juga menghendaki demikian, tentu, tanpa menegasi orisinalitas cabang seni tradisi yang merupakan dasar pembelajaran bersama.
Menyikapi wacana pengembangan ini, Nurokhim Bulles dan Toro Mantara merespons dengan suka cita. Keduanya memang memiliki intensitas dalam bermain musik diatonis sebagai pengelola studio musik dan pemain panggung pertunjukan.
Pembelajaran gamelan tradisional itu sendiri bersifat terbuka untuk umum. Pelaksanaannya dijadwal 2 kali dalam sepekan, yakni tiap malam Rabu dan malam Sabtu.

Urutsewu Kritisi Tim Mediasi

Kebumen – Petani pemilik tanah pesisir Urutsewu memprotes upaya mediasi yang dilakukan Pemkab Kebumen dalam menindaklanjuti hasil kunjungan gubernur Jateng selama 2 harinya di Kebumen. Ganjar Pranowo yang meminta petani pesisir mengumpulkan bukti-bukti pemilikan tanah yang dipunya, merasa diabaikan keberadaannya karena tak disertakan sebagai pihak kunci dalam mediasi awal di Gedung F Setda Kebumen (14/9) lalu.
Ikhwal keberatan ini muncul saat belasan petani melakukan evaluasi atas pelaksanaan tahap awal mediasi yang menyertakan fihak TNI-AD, dari Kodim hingga perwakilan Kodam; tetapi mengabaikan keberadaan petani sebagai yang berhak atas tanah pesisir di dalam forum itu. Sehingga upaya menyelesaikan konflik agraria pesisir Urutsewu yang tengah diinisiasi Muspida Kebumen pun diragukan kredibilitas dan independensinya.
Terlebih karena dalam forum itu yang diundang hanya pejabat Kades dari 7 desa tertentu diantara 15 desa pesisir Urutsewu. Hal ini terkesan bahwa seolah yang melawan klaim TNI dan menolak pemaksaan pemagaran yang dilakukan TNI hanya lah 7 desa itu saja. Padahal khusus untuk pemaksaan pemagaran TNI yang dimulai sejak Oktober 2013 itu telah sejak awal muncul penolakan petani dan warga lainnya. Penolakan nyata muncul dari petani warga desa-desa yang dalam realitas sekarang telah selesai dipagar.
“Di forum itu ada pejabat TNI dan pemerintah, tetapi tak ada keikutsertaan petani pemilik tanah di dalamnya,” tegas seorang petani yang datang rapat evaluasi (16/9) di rumah seorang warga Kaibon Petangkuran, Ambal.
Di forum yang diinisiasi Muspida itu pula, dimana pejabat Kades mesti menyerahkan data bukti pemilikan tanah warga, tetapi tak ada keharusan pihak TNI menyerahkan bukti pemilikan yang jadi dasar klaimnya.
“Ini jelas tak berkeadilan, apalagi kenyataannya pemagaran oleh TNI jalan terus,” tukas seorang petani lain dari desa Kaibon yang tanah miliknya telah terlanjur terlanggar pemaksaan pemagaran oleh TNI.
Komposisi Tim Mediasi yang tengah dipersiapkan ini pun, rupa-rupanya tak memberi ruang bagi petani untuk merekomendasikan kalangan akademisi tertentu yang integritas serta intelektualnya sepenuhnya dapat dipercaya.
Logika Perampasan Tanah Petani
 Banyak hal penting terungkap dalam rapat informal dengan agenda pokok evaluasi aksi (16/9) malam itu yang jadi membukakan kesadaran baru dan sangat relevan dengan kelanjutan tahap perjuangan petani pesisir Urutsewu. Belakangan diketahui dari sumber LPSE TNI-AD yang bisa diakses laman webnya. Ternyata proyek prestisius pagar yang menandai hegemoni militer atas kawasan holtikultura pesisir ini bernilai 4 miliar 720 juta rupiah.
Dalam logika pembangunan yang umum, alokasi dana APBN sebegini besar merupakan hal yang tak mudah dimuluskan pelaksanaannya. Hal ini menandakan ada keterlibatan lintas kementerian dan lembaga negara di tingkat nasional, termasuk lembaga legislative pusat. Tetapi ironisnya, pembangunan pagar pesisir oleh TNI ini tak disertai dokumen lengkap. Ihwal ini juga tak dipertanyakan dalam meeting mediasi yang digagas Muspida Kebumen di Gedung F Setda yang lalu.
Padahal sebuah instansi pemerintah yang mau membangun kantor untuk menunjang fungsi penyelenggaraan Negara sekalipun; harus memiliki legalitas IMB.
Faktanya, ketika petani, warga dan unsur pemerintahan desa menanyakan perihal legalitas pemagaran pesisir di wilayahnya; malah dijawab dengan pentungan dan serangan brutal fihak militer. Contoh terakhir atas tindakan brutal ini adalah apa yang terjadi di pesisir desa Lembupurwo (30/7) serta pesisir desa Wiromartan (22/8) dengan 31 korban terluka, termasuk perempuan.
Semua ini membuktikan bahwa problem krussial pertanian pesisir Urutsewu bukan lah sebuah konflik agrarian, tetapi telah terjadi perampasan tanah-tanah pertanian yang dilakukan secara sistematis. Dan pemaksaan pemagaran oleh TNI, ditambah tindakan brutal terakhirnya; memperkuat bukti terjadinya perampasan tanah pertanian itu.

Makan Khas Jawa WArisan Nenek Moyang

Sebut aja ketela rambat dan cang, menpunyai khas sendiri utk warga kampung saat pagi atau malam hari untuk saat ini sebagai cemilan.
Akan tetapi di masa lampu makan ini adalah makanan poko sehari -hari bukan cemilan. Ujar simbah saynem 87 tahun.

 

.

Support : Creating Website | bahrun grup | simponi
Copyright © 2011. Suara Muda Kebumen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by cs
Proudly powered by Blogger