Suara Muda
Headlines News :
BRAM Grup bahruninfo@gmail.com. Powered by Blogger.
Tridinamika Blog Kontes 2013
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Wahyu Cakraningrat; Antara Tontonan dan Tuntunan

Dalam rangka syukuran pasca pelantikan Bupati Kebumen dan wakilnya, dihelat pementasan wayang kulit dengan dalang lokal Eko Suwaryo (20/2) di alun-alun Kebumen. Dalam pementasan itu dalang dari Jatiroto Buayan yang tengah “naik daun” ini membawakan lakon “Wahyu Cakraningrat”. Adakah korelasi cerita pewayangan ini dalam konteks Kebumen kekinian dengan Bupati yang baru? Jika ada, seberapa dalam makna tuntunan dimensi-dimensi wayang terhadap percaturan seputar kepemimpinan daerah dengan slogan “beriman” ini?
Meski secara umum Ki Dalang Eko Suwaryo yang masih terbilang muda ini teguh mengimani pakem klasik jagad pewayangan, dia tak keberatan untuk  mengadopsi trend pementasan pembaharuan poles ala Manteb Sudarsono maupun Entus Susmono; dua dalang kondang di mata publik yang sebelumnya pernah beberapa kali mementaskan kepiawaiannya di Kebumen. Tentu, Eko Suwaryo berbeda dengan ke dua dalang itu.
Pementasan dengan audiens berjubel yang menyusut pada pasca tradisi limbukan dan menyusut lagi setelah lewat fase goro-goro merupakan gejala sosiologis massa apresian pada umumnya, dimana-mana. Secara kuantitas mungkin ini merupakan sinyalemen awal surutnya salah satu dari dua aspek terpenting wayang; tuntunan dalam tontonan.
Namun secara kualitas, pementasan lakon “Wahyu Cakraningrat” emang sarat  wewarah dalam konteks kepemimpinan daerah, memiliki taut korelasi yang kuat hari-hari ini.
Dan sanggit sang Dalang Eko Suwaryo dengan konvensi tradisi jejeran dan pathet telah mentransformasikan pertunjukkannya, di tengah audiens dengan spiritualitas Jawa kekinian yang nampak surut militansinya.

Cakraningrat Wahyu Yang Tak Diburu
DSCN9692
Dalam “realitas” genesis kewahyuan, Cakraningrat itu seorang dewa yang turun dari alam kahyangan dengan nama Batara Cakraningrat. Berbeda dengan wahyu dalam jagad pewayangan yang kebanyakan diturunkan oleh Batara Wisnu, maka Cakraningrat itu diturunkan oleh Batara Kamajaya dan Kamaratih; istrinya.      
Wahyu Cakraningrat disebut pula wahyu keraton, sebab dalam mithologi Jawa Wahyu Cakraningrat merupakan abstraksi yang menghimpun karunia-karunia Hyang Wenang [Allah_pen] dari muatan aspek rajawi.
Sanggit sang dalang mengisahkan perjalanan Sang Cakraningrat sebagai seorang dewa yang atas wenang Hywang Pada harus menitis pada ketiga pemburunya yang tengah bertapa di bumi Mayapada.
Ketiga orang itu adalah Lesmana Mandrakumara, putra Suyudana raja Astinapura. Kemudian tercatat pula Samba ksatria Parang Garudha anak dari Prabu Kresna raja Dwarawati. Yang ketiga adalah Abimanyu ksatria Plangkawati keturunan Arjuna dari istri Subadra. Ketiganya manekung, mesu-raga, mesu-budi, dalam rangka mendapatkan wahyu yang jadi muatan simbol dan abstraksi dari kehendak kesejahteraan manusia semesta.
Karena wahyu ini merupakan abstraksi yang memuat amanah keagungan semesta, maka secara epika nalar tentu layak menjadi pertimbangan paling utama bagi siapa pun yang menghendakinya. Di sisi lain, kehendak Hyang Pada Wenang akan kelestarian bumi yang harus manifest ke dalam kuasa kebijakan dalam menata dan mengatur (aspek rajawi) bagi Sang penerimanya. Maka Batara Cakraningrat menguji ketiga ksatria pemburu yang menunggu turunnya.
Apakah kesadaran spiritualitas Jawa yang dipertuntunkan dalam tontonan wayang dengan lakon “Wahyu Cakraningrat” seperti ini telah jadi resensi dan referensi pada syukuran pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kebumen?
Saat menjelang fajar subuh, makin sedikit orang menonton pertunjukanNya

Festival Dalang Anak 2015 Banjarnegara




“Bawono Kebuja” Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen dan Jogjakarta’ ini, digelar selama 2 hari; 15-16 Desember 2015.

Pada hari pertama menampilkan 1 peserta dari Banjarnegara dan 4 peserta dari Kebumen. Banyak catatan menarik saat mencermati unjuk kebolehan dalang anak partisipan lomba dengan kriteria penilaian mencakup 3 aspek utama. Eksploor kepiawaian melalui organ tubuh seputar mulut, tangan dan kaki; menjadi fokus dewan yuri yang terdiri dari 3 orang yang ditunjuk penyelenggara.
Festival Dalang Anak 2015, dibuka hari Selasa [16/12] oleh Pejabat Sekdes Merden mewakili unsur pemerintahan desa; benar-benar menarik perhatian publik. Demikian pula bagi Dewan Kesenian Daerah [DKD] Kebumen yang mengambil konsekuensi dengan mengirimkan kontingen, terdiri dari 4 dalang anak berikut pendamping, pelatih, waranggana dan beberapa wiyaga pengiring. Padahal bagi DKD Kebumen sendiri dalam urusan realisasi program-programnya, tak ada dukungan dana operasional sepeser pun dari pemerintah.
Keempat dalang anak yang jadi duta seni pedalangan mewakili Kebumen  itu adalah Kethug Guritno, Bambang Priambodo, Gilang Wibisono dan Alfian Dwi Saputro. Keempatnya merupakan hasil seleksi 11 dalang anak beberapa hari sebelumnya, dan berlatih pendalaman materi lomba di padepokan “Sehat Medika” milik R. Suman yang notabenenya adalah Ketua Pepadi Kebumen.
Sedangkan Ketua Umum DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo mengakui pengiriman kontingen ke Lomba Dalang Anak 2015 di Banjarnegara ini merupakan salah satu program lembaga daerah yang diketuainya, meskipun jajaran Pengurus DKD periode sekarang belum dilantik karena kendala seputar internal birokrasi daerahnya yang tak kunjung beres. Tantangan lain yang memprihatinkan fungsi dan kinerja DKD Kebumen adalah bahwa lembaga ini mengalami sindrom zero-budgeting untuk tahun 2015; selain juga tak punya sekretariat yang merupakan kebutuhan vital kelembagaan.
Catatan Apresiatif
Lomba Dalang Anak 2015 jadi ajang untuk menguji seberapa konsisten DKD Kebumen merealisasikan agenda programnya. Tetapi di dalam pengertian itu, regenerasi seni pedalangan daerah memang menjadi problematika tersendiri. Catatan yang dapat dihimpun dari event Lomba Dalang Anak 2015 yang difasilitasi oleh Rumah Budaya Nagasasra di Banjarnegara, nampaknya, dapat menjadi tonggak yang cukup penting.
Kiprah penampilan dalang anak dari 4 daerah setidaknya cukup bersyarat untuk dihadapkan pada problem regenerasi seni pedalangan tradisional.
Tiga lakon pendek yang disiapkan penyelenggara, Jabang Tetuko, Babad Alas Wanamarta dan Dewaruci memang menarik untuk dijadikan bahan eksplorasi yang memenuhi visi berkesenian dalam dua aspek; sebagai tontonan dan tuntunan.
Performa para dalang anak di event ini memang unik dan fenomenal. Terlebih bila mau dicermati lebih dalam dari bagaimana dalang anak mempertunjukkan kepiawaiannya dalam mendekati terpenuhinya kriteria penilaian normatif dalam suatu lomba; maka itu lah substansi dari catatan apresiatif ini. Dengan mempermanai proses kreatifnya, dapat lah ditangkap peluang bagaimana eksplorasi ide gagasan dapat dibangun secara optimal. Ini lebih dari sekedar menjawab problem regenerasi yang masih menjadi kekhawatiran tersendiri.
Dari perspektif festival, spirit pembaharuan dapat dijadikan alas pemikiran yang lebih visioner. Bahwa jauh ke depan, pedalangan harus berkembang jadi bagian dialektikajaman sebagai sebuah eksistensi berkesenian; maka sejak sekarang saatnya benih itu ditumbuhkan.

Event Lomba Dalang Anak 2015 adalah tonggak untuk itu…

Festival Dalang Anak “Banjarnegara 2015”

Rumah Budaya “Nagasasra” Banjarnegara dengan dukungan Pemerintah Desa Merden Kecamatan Purwanegara menggelar Festival Dalang Anak 2015, bertempat di Balai Desa Merden. Festival dengan pendekatan lomba seni pedalangan untuk tahun ini diikuti oleh 11 peserta dari 4 daerah yang oleh panitia diakronimkan dengan sengkalan “Bawono Kebuja” [Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen dan Jogjakarta] ini, digelar selama 2 hari yakni 15-16 Desember 2015.
Pada hari pertama menampilkan 1 peserta dari Banjarnegara dan 4 peserta dari Kebumen. Banyak catatan menarik saat mencermati unjuk kebolehan dalang anak yang menjadi partisipan lomba dengan kriteria penilaian mencakup 3 aspek utama. Eksploor kepiawaian melalui organ tubuh seputar mulut, tangan dan kaki; menjadi fokus dewan yuri yang terdiri dari 3 orang.
Festival Dalang Anak 2015, dibuka hari Selasa [16/12] oleh Pejabat Sekdes Merden mewakili unsur pemerintahan desa; benar-benar menarik perhatian publik`

Nilai dari Kothekan Lesung Bonorowo

Kebumen – Pelataran baledesa Bonorowo pagi hingga siang hari itu dikepung massa hingga meluber ke jalanan aspal di seberangnya.  Dari jauh terdengar talu lesung yang ditabuh dalam irama tertentu yang  memancar dari toa dan menggema hingga tetangga desa.  Kemeriahan pagi itu tambah semarak dengan para pedagang jajanan dan mainan anak yang datang memanfaatkan keramaian.
“Hari ini memang sedang digelar lomba kothek lesung di Bonorowo”, terang pak Saryono, salah satu panitia yang jadi yuri lomba. Lelaki yang juga Ketua BPD Bonorowo ini menilai penampilan kelompok peserta dari pinggir jalan.
Ada 8 kelompok lesungan yang berlomba hari itu, semua berasal dari beberapa pedukuhan di desa Bonorowo sendiri.  Panitia mewajibkan peserta yang mengikuti lomba untuk membawakan lagu “Kebumen Beriman” dalam kothekan lesung yang dibawakannya. Lagu lainnya menjadi materi pilihan bebas yang dibawakan.
Tradisi sebagai Metode Melestarikan
Ada yang menarik di balik ide lomba kothekan lesung ini. Yakni sebuah kebijakan kolektif masyarakat sendiri yang secara moral dan kultural “mewajibkan” warga desa untuk nanggap lesungan pada hajatan yang dihelat keluarga. Terutama pada saat warga punya hajatan mantu mbarep atau mantu ragil pasti mementaskan kothekan lesung ini.
Hal ini jadi permufakatan sosial yang disepakati warga desa Bonorowo. Dengan begitu menjadi semacam “kewajiban moral” seluruh warga desa. Implikasinya adalah upaya konkret untuk melestarikan seni tradisi kothekan lesung di desa ini. Sejauh ini, menurut Ketua BPD setempat, kebijakan ini bersifat kultur dan tidak perlu dibuat aturan struktural semisal peraturan desa (perdes). Namun malah secara effektif berjalan dan dilaksanakan seluruh warga desa.

Kesenian Asli Kebumen Yang Me-nusantara, Berawal Dari Sejarah Perlawanan

Kebumen – Jika anda mencari tentang kesenian rakyat yang asli Kebumen bukan ndolalak, karena itu milik Purworejo, bukan Jaipongan karena itu dari Jawa Barat ukan rongeng karena itu dari Banyumas. Tetapi anda harus memperdalam tentang Seni Cepetan Alas yang ternyata asli Kebumen. Cepetan alas ini merupakan tarian yang sarat makna karena diawali dari perjuangan melawan Jepang.
Cépét yaitu kesenian tradisional di desa-desa di Karanggayam seperti Karanggayam, Kajoran dan Watulawang. Kesenian ini dimainkan oleh 12 orang. Para pemain memakai topeng raksasa. Rambutnya terbuat dari duk (sabut pohon aren) dan pemainnya mengenakan pakaian hitam, dan memakai sarung sebagai blebed di pinggang. Tarian diiringi musik tradisional yaitu kentongan, jidur (kendang gede) dan drum bekas. Cepetan alas oleh sebagian masyarakat di sebut juga Dangsak di desa Watulawang sudah ada sejak tahun 1960-an didirikan oleh Parta Wijaya (Alm), dan turun temurun sampai sekarang.
Di Watulawang para pemain seni ini, pentas hanya setahun sekali, tepatnya pada perayaan 17 Agustus. Dalam peringatan 17 Agustus, Cépét merupakan menu wajib yang harus di mainkan, mengiringi anak sekolah SD Watulawang yang konvoi mengelilingi desa, bahkan sampai ke desa lain di Peniron.
Saat mau pentas, para rombongan cépét biasanya sudah ngumpul pagi- di rumah Ketua rombongan (Dawintana ) dan memakai seragam dan aksesoris perlengkapannya, kemudian rombongan berangkat untuk mengikuti upacara peringatan 17 Agustus di SD Negeri Watulawang, bersama rombongan kuda lumping dan anak-anak sekolah.
Kemudian di lanjutkan dengan konvoi, rombongan cépét selalu berada di depan, dan di ikuti rombongan anak sekolah, dan paling belakang rombongan kuda lumping. Di perjalanan kadang pemain cépét ini sudah ada yang kesurupan, dengan sautan suara yang menyeramkan, mereka mengerang- ngerang laksana raksasa, semakin menambah keseraman terutama bagi anak kecil yang melihat.
Sesampainya di lokasi, di bakarlah kemenyan oleh sang pawang, terus mereka berjoged (Ngibing,jawa ) sesuai perannya, dan kesurupan pun makin menjadi- jadi, suasana makin menyeramkan, para pemain yang kesurupan itu mulai makan sesaji kumplit yang di sediakan di meja kusus tempat sesaji.
Mereka makan serba aneh, daun papaya mentah, kembang, minyak wangi, kemenyan, dan makanan makanan lain, bahkan ada juga yang makan ayam hidup. Penonton juga kadang ada yang kesurupan. Bagi anda yang berminat menyaksikan pentas Cépét, datang saja ke Desa Watulawang atau Kajoran pada setiap 17 Agustus, karena kesenian ini hanya pentas pada hari itu. (A-42/Brs/Opal/Diolah dari berbagai sumber).

Kebumen merupakan kota santri danpendidikan

Kebumen News- “Mas kalau saya lihat dan rasakan Kebumen merupakan kota santri danpendidikan.” Begitulah komentar salah seorang warga Purworejo Sugiman saat bersama Kebumen News menikmati secangkir kopi di desa Kepuh..
Bermaksud memperjelas, Kebumen News bertanya Koh bisa bapak .? “Ya mas lihat saja pesantren berada hampir di setiap kecamatan dan  masih tetap eksis sampai sekarang. Apalagi pesantren  yang mengikuti zaman perkembangan pesantren plus sekolahan.” Sambung Surip temannya Bertanya lagi Oh begitu ya pak..? “Ya mas, itu pasti maju apalagi santri yang banyak  menunjukkan pesantren menjadi tempat pendidikan favorit di Kebumen. Pernyataan ini didukung oleh Saebani warga Kebumen yang aslinya Cilacapberisteri orang Kebumen, dan sekarang tinggal di Kebumen. “Dulu saya juga nyantri di Kebumen mas, lalu dapat orang Kebumen, lama tidak disadari bahwa Kebumen merupakan kota santri dan kota pendidikan. Kalau tidak salah jumlah pesantren di Kebumen 100 lebih, karena dulu saya pernah jadi pengurus pesantren, bahkan sampai saat ini masih ada komunikasi. “Meskipun jumlah santri berkurang karena kemajuan zaman sekarang, pesantren di Kebumen masih tetap eksis walaupun tak sebanyak pesantren dahulu dan pesantren moderen saat ini terus berkembang dan lebih  banyak santrinya di karenakan ada tempat pendidiknya” Ujar Saebaani. “Nah itu mas ..? Kebumen dikatakan kota beriman karena banyak pesantren dan pendidika berbasis agama, data lengkapnya dapat dilihat dan dihitung. Berapa jumlah sekolah di Kebumen, hampir seribu sekolahan dari tingkat dasar sampai tingkat per guruan tinggi semua ada di tingkat kecamatan dan perdesaan khususnya sekolah dasar, tingat SLPT dan SLTA di tingkat  kecamatan, Purworjo. 13/3/ 2015. ( Bram )
 Views All Time
623

Pawai Budaya Dengan Kearifan Lokal

Kebumen- salah satu sekolah menengah di kebumen SMK Maa'arf 1 kebumen  merayakan hari jadi/ harlah yang ke 25 dengan mengankat pawai budaya dengan kearifan lokal yang berlasung 14 maret dan hiburan pada hari minggu 15/3. Berama penyayi papan atas leto yang akan berlasung di  SMK Maa'arif 1 kebumen .

Batu Asli Lukulo kebumen Yang Menyimpan “Batu Kristal”

Kebumen News- Banyak jenis batu yang lagi ngetren di buru oleh para pecinta batu. Berbagai jenis model dan warna dapat ditemukan, Kebumen mempunyai jenis batu paling lengkap di wilayah belantara batuan dunia.
“Kebumen memiliki jenis yang bersumber dari sungai Lukulo atau yang berpusat di sorganya batu dunia di LIPIKarangsambung Kebumen, Batua di Karangsambung danSadang dikenal batu terkuat dari jenis batu tertua,” Tutur Somad salah seorang pecinta batu kali Lukulo.
Jarang diamati, ternyata ada batu kristal tersembunyi di dalam batu. Batu kristal itu  terbentuk secara alami di dalam batu tersebut. Nenek moyang menyebut jenis batu ini Batu Umbul dengan berbagi warna jenisnya. Saat kecil pasti sering menemukan dan memecahkan batu karena batu jenis ini mudah didapati. Jenis batu umbul yang berwana putih paling mduah ditemukan.
Batu kristal di dalam batu umbul ini ukurannya kecil seperti permata pada umumnya. Konon mempunyai khasiat jika di masukkan bak mandi menyebabkan rasa air sangat dingin seperti di kulkas. Selain itu batu kristal ini dipercaya mempunya khasiat untuk pengobatan penyakit kulit dengan cara ditempelkan pada sekitar kulit yang sakit. Bentuk batu umbul ini bisa dilihat seperti di gambar ini.
Cara menemukan batu kristal adalah dengan cara di pecah menggunakan palu atau sejenisnya. Agak susah memang karena belum tentu batu yang dipecah itu ada kristalnya. “Perlu perjuangan untuk mendapatkan jenis batu ini. Kalau beruntung satu batu umbul bisa saat dipecah ditemukan10 batu yang berbentuk kristal” Tutur Romelah, Jumat, 17/10/14. (Bram)

Festival Tari Tingkat Pelajar Se-Kabupaten Kebumen

Kebumen – “Whaduh, saya sampai susah menentukan pemenang, semua tarian yang disajikan siswa-siswi ini, bagus-bagus” Tutur Fatmawati, Juri pada Festival Tari  tingkat pelajar se-Kabupaten Kebumen yang di selenggarakan BEM Kampus IAINUKebumen. Festival yang berkolaborasi hibpop  ini  mampu membius penonton dan juri,  kreatifnya siswa-siswi pelajar Kebumen dalam menari dan mengkolaborasi tari Jawadengan modern dalam arena festival tari. Festival ini dikuti pelajar tingkat SLTA Se-Kabupaten Kebumen (30/2).
Pada festival ini memang menerapkan kriteria kejuaraan berjenjang (rangking), namun hanya tigaterbaik non rangking. Dalam hal ini SMA Karangan Ayar Kebumen  meraih predikat terbaik dalam sejumlah katagori tersebut di atas tanpa diikuti oleh daerah lainnya.
“Ajang ini festival tari tingkat pelajar kali ini adalah yang pertama kali di selengarakan oleh kampus IAINU untuk mewadahi bakat dan minat pelajar di Kabupaten Kebumen dalan hal tari jawa yang dikolaborasi dengan tari modern atau hibpop oleh kalangan muda khusunya pelajar untuk menghargai seni tari asli budaya jawa” Tutur Asror ketua panitia.
Kegiatan ini direncanakan tidak hanya tahun ini, akan tetapi akan diagendakan digelar rutin tahunan oleh BEM IAINU “Untuk melestarikan kesenian jawa, untuk tahun ini baru mencoba satu kesenian tari jawa, semoga tahun berikutnya akan mengakomodasi semua kesenian-kesian  jawa khusunya di Kebumen untuk dapat digelar festival tahuan di IAINU Kebumen Award.” Papar Lukman presiden BEM IAINU Kebumen. Lihat Videonya di sini ( kebumennews.com)

Lomba di basar buku kebumen

lombanya selama 3 hari jumat pildacil sama tahfidz, senen festival rebana diikuti 17  grup bahkan ibu ketua bhayangkari ( bu kapolres) ikut nyuporteri binaanya

Pertemuan Penrajin Batu Akik Kebumen

Pertemuan pencita batu akik yang Ada di kabupaten kebumen sebayak kurang lebih 150an anggota yg tersebar di berbgai wilayah kebumen, acara yang bertempat  Aula baldes kebumen, dekat bumen jaya, sebelah hotel putra yang di mulai habis mahrib sampai tengah malam.

Sarapan Pagi Ala Kampung

Ternyata di kampung masih bisa menikmati sarapab pagi seperti ini, dengan zaman globalisasi, sarapan seperti ini makan-makan terbuat dari singkong masih di gemari di kampung-kampung khususnya para orang tua yang ber usia di atas 50 thn. Sikong di temani secangkir kopi pagi dan sebatang rokok lintibgan, sudah menjadi tradisi orang jawa.
Makan seperti ini bukan karena engga ada yang lain atau uang tapi menpunyai rasa tersendiri dan khas di saat-saat ini di mana para pemuda-pemudi menikmati makan serba instan mungkin juga sudah engga suka atau mau makan, ujar sibah rimba salah satu masyarakat kecamatan klirong.

Batu Akik Badar Emas Murni

Batu akik badar mas ini asli bukan biatan manusia adalah almi terdapat pada bati ini. Badar mas ini bisa untuk mengeser lanyar sentuh tampa di tekan kuat dan bisa meng ganti tuc lauar sentuh. Badar emas ini warna hijau tembis bila di senari. Asli kebumen, lelang bila minat ke email bacayuh@gmail.com

Ngotel Bareng 2015

Salah satu komonitas ngontel bareng 2015. Menjadi salah satu aktifitas dalam rangka kebumen 2015 ramah lingkungan dan sehat.
-->

Diskusi Bersama Anisa Wahid Gudurian Muda Kebumen

Berapa rangkean acara Haul ke 5. KH. Gusdurrahman Wahid dari acara pentas budaya yang lintas imam dan di lanjudkan diskusi bersama Anisa wahid, suter dan teman muslim .yang di mulai jam 16.30 wib bersama teman-temuda kebumen bersama kampus IAINU kebumen yang pada malam harinya bersama yang lebih tua alias tokoh-tokoh agama di kebumen bertempat di kampus IAINU kebumen.

Haul ke 5 K.H Abdurrahman Wahid

Kegiantan haul KH abdurrahman Wahid yang ke 5 di kampus IAINU Kebumen bersama anisah wahid. Yang di awali dengan berbagi musik lintas imam salah jamjaneng , barongse dan lain-lain.

Laucing novel karya wong bumen

Kebumen- laucing novel karya marjuki yang kesekian kali dan diskusi publik yang di selengarakan oleh masjid raya senin 12 januari 2014.  Yang di awali dengan musik seniman kebumen dengan alat sederhana mebawa nuasa alami yang memberikan sepirit semangat. Salam perbuhan dan sukses

Uapacara 17 Agutus Ala Dunia Maya

SuaraMuda-Komonitas Kopi Galauw tidak ketingalan dalam Acara 17 agustus 2013. Upacara ini luar bisa yang jarang dn mukin belum ada di indonesia atau dunia. Upacara kali ini di Komonitas Kopi Galau yang ada di WASHAP. Dengan caranya sendiri untuk mengenang para Pejuang Bangsa kita yang telah gugur. Dengan acara yang sama seperti halnya upacara di dunia nyata.
Di mana peranan komonitas ini, dibagi peranan-peranan masing-masing, seperti hal yang ada dlm runtutan upacara. Di karenakan tak mukin bisa ikut acara karena tak ada undangan upacara, karena mayoritas di kopi galauw bukan pejabat, aparat, siswa dan setruktur pemerintah. Makah oleh karena itu komonitaa kopi galau memafaatkan Washap mengadakan sendiri peringatan upacara 17 agustus di dunia maya. Yang masing-masing  peserta menpunyai tugas. Strukur acara upacar. Ketua pembina bapak brs mustolih, komadan upacara.samsul H. Komandan regu, agus S. Pembawa bendera, aji, elsa, lulu. Pembaca tek proklamasi novita. Do"a hamim M. Ke aman joko.  Bagian kesehatan bedan ayu. Menyayikan lagu indonesia raya ifah. Peserta angota kopi galauw, persiapan sejak jam 7 pagi di  mulai jam 9.
Bacaan proklamasi tek di atas. amat pebina upacara oleh pembina bapak tolih.
Upacara kemerdakan di mulai...
Upacara di mulai
Siaaaaap.......graaaak
Pembina upacara masiki mimbar acara

Teks Proklamasi KEMERDEKAAN....
di atas 

lagu indonesia raya.......

Amanat Pembina Upacara Bapak Mutolih
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang terhormat Bapak/ibu/mas.mba yu. ...
Yang terhormat Bapak Ketua RW/RT ...
Yang terhormat angota Kopi Galau
Dan hadirin sekalian yang kami muliakan!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, pada hari ini kita semua masih diberi kesempatan untuk ikut serta memeriahkan acara hari ulang tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke-68 dalam keadaan sehat wal-afiat.

Selanjutnya dengan memperingati hari ulang tahun kemerdekaan kita ini kami berharap, semoga kita lebih meningkatkan rasa cinta kita pada tanah air dan bangsa, lebih meningkatkan daya juang kita terhadap bangsa dan negara, lebih mempersatukan jiwa dan segenap raga kita untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Hadirin sekalian yang berbahagia, jika kita kenang perjuangan para pahlawan tahun 1945 maka terlintas jelas di benak kita bahwa semangat pertempuran yang bagaikan api yang tak kunjung padam itu begitu hebat menyatu pada jiwa para pahlawan pejuang 45 itu. Namun demikian tak kalah pentingnya dengan peran kita semua sekarang ini. Perjuangan belumlah selesai. Korban telah banyak berjatuhan maka marilah kita tingkatkan terus jiwa dan semangat 45, dengan mewujudkan jiwa pembangunan yang tangguh.

Kemakmuran berdasarkan keadilan dan Ketuhanan Yang Maha Esa belum kita capai. Untuk itu masih banyak yang harus kita perjuangkan. Kemerdekaan sebagai warisan para pahlawan kita ini hendaknya kita isi dengan jiwa pembangunan tanpa mengenal kepentingan pribadi terlebih dahulu.

Jiwa dan semangat 45 ialah jiwa dan semangat kebersamaan. Jiwa yang mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan. Untuk itu pula maka kita wajib menigkatkan rasa solidaritas berbangsa dan bernegara. Persatuan dan kesatuan nasional lebih di atas kepentingan kita secara pribadi dan golongan. Tumbuhkan terus semangat kebersamaan dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan.

Insya Allah harapan bangsa Indonesia mencapai kehidupan yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan ridla Allah Subhanahu wa Ta’ala tercapai dengan menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan nasional Indonesia. Amin, amin, yaa robbal ‘alamin.

Akhirul kata, selamat berjuang, selamat membangun bangsa dan negara kita tercinta ini.

Dirgahayu Indonesiaku! Merdeka!
Wassalamualikum warahmatullahi wabarakaatuh
menghening kan cipta. detik-detik proklamsi . masing agota mngaplut suara sompretttt.
doa. acara selesai... 

maaf bila ada kesalahan dan ta ta cara yang kami lakukan bukan untuk kami melecehkan tapi kami bersama komonitas untuk ikut adil dalam acara 17 agustus 2013. karena kami engga bisa ikut lasung sesuai kerengan di atas. yang pasti untuk bangsa kita untuk terus maju. jangan kawatir di grup kopi galau semua pendidikan paling rendah S1 tapi jangan kewatir juga ,magister yang gabung, karena media ini buat komonikasi berbagi danbelajar bersama untuk emafaatkan media on line. 

media ini terbuka untuk umum... siapa saja boleh ikut.. karean washap harus pake no hp. makah hars imbuk no hp jenegan ke Fb di bawah link ini. terimakasih wasalam.. salam perubahan..indonesia merdeka haraga mati...
Berbagi Itu Asik: ( Info seputar Pesantren ):

Mau berbagi? Follow: @murtopo | Facebook | Bahrun Berbagi

Menghemat Energi Listrik Sejak Usia Anak-anak

SuaraMuda-Dengan kemajuan zaman teknologi serba listrikan ini sekarang sedang trend lantaran biasanya ditimbulkan oleh alat-alat canggih yang notabene nya merupakan perangkat Hemat Listrik, dan berbagai promosi alat-alat permain anak-anak, perlengkapan dapur dan perlengkapan rumah tangga sudah  ber alaih ke tenaga listrik, apa lagi elektronik yang ber bunyi hemat listri. Hal ini belum tentu hemat bila pola hidup yang ada di rumah kita sendiri dan sekitarnya, belum menyadari pentingnya energy listrik untuk kehidupan sehari-hari.

Berapa ide gagasan yang kami lakukan bersama teman remaja desa kami, untuk menghemat listrik tampa menguranggi aktifitas sehari-harinya masyrakat desa maupu kota, yakni dengan gerakan Hemat Listrik tetapat untng buat nabung anak nantinya, yakni dengan menbuat polisi listrik untuk anak yang sudah ber umur 7 tahun ke atas dengan di bekali, bagaimana mematikan listrik yang baik dan benar kapan waktunya da mengenalkan jenis alat elektronik yang berlistrik untuk di kealkan tehnik dan cara mengmatikan dan meng hidupakan.

Kami berserta kawan-kawan remaja masjid melakukan ini telah melakukan surfai dari keluarga dan aktifitas anak-anak sehari-hari anak-anak melakukan apa dan bagaimana pola hidupnya, dari itulah ide muncul makah di bentuk menabung listrik dengan nama polisi listrik untuk anak, dan melatih anak disiplin, rajin, bernai dan tangung jawab,  tampa sadar anak terbentuk kedisiplin sendiri,

Energi Seving Listrik ini dilakukan oleh anak-anak setiap pagi, sore dan pengunaan alat elektronik yang mengunakan listrik, di control untuk di matikan dan di nyalakan sesui kebutuhan. Karena kebiasaan orang desa menbiarkan lampu tetap menyala tampa tepat waktu dan sering kali lupa nyala tampa berguna. Oleh karena, anak-anak lah yang bertangung jawab menajaga energy listrik yang terbuang sia-sia. Dengan cara menabung untuk anaknya agar mau melakukan menjadi polisi listrik.

Dengan cara kerjasama pembayaran listrik yang sudah di kelola oleh remaja desa yang biasanya karang taruna atau pemuda masjid, Dari sisah pembayaran listrik itulah, sisah pembayaran bulanan pertama di hitung bila sisah masuk tabungan untuk anak, yang menjadi polisi listrik sebagi penyemangat anak agara kelak bisa menmafaatkan listrik sebaik mukin kedepanya.

Cara Energy Seving Listrik karena sekarang ada model listir pulsa dan listrik bukan pulsa.

Bulan sebelumnya. Seumpama habis Rp. 50 bulan berikutnya habis Rp. 40 . dari sisah 50 ribu di tabung buat anak tersebut di bagian pembayaran listrik,  ini yang mengunakan listrik biasa. Bila mengunakan pulsa sama bila biasanya beli pulsa 50 ribu bulan berikutnya setelah anak menjadi polisi listrik. Habis pulsa 35 perbulan sisahnya di tabung kepada anaknya. Orang tua tetap kasih uang pulsa perbulan 50. 

Tridinamika Blog Kontes 2013
Berbagi Itu Asik: ( Info seputar Pesantren ):

Mau berbagi? Follow: @murtopo | Facebook | Grup Kebumen

26 Grup Rebana Ibu-Ibu Ikuti Fistival di PC Muslimat NU Kebumen


Kebumen-26bgrup rebana ibu-ibu sekabupaten kebumen adu ktrampilan  dalam vistival rebana peminpin cabang muslimat NU di gedung serba guna muslimat yang baru selesai di bangun di jalan  Arubinang, kegitan rebana ini di lakukan pada hari saptu tgl 15 septerber 2012.

Ketua Rebana  Mohslihatun Tabingi menyapekan festival rebana perwakilan dari PAC seluruh kecamatan kabupaten kebumen, setiap peserta di wajibkan bawa dua lantonan lagu rebana, yang kan antinya akan di ambil satu sampai tiga dan juara harapan, masing-masing jura akan di beri uang binaan dari juara I sebesar Rp: 500 ribu, Juara II Rp: 400, Juara III Rp 300 an jauara harapan Rp 100 ribu.

Tujuan di adakan festival rebana dari tingkat Kabupaten untuk menper erat sulahturohim grup kesenian rebana Sekabupaten Kebumen sekaligus sebagi Ukhuwah Islamiyah  lewat kesenia islam. Karean grup rebana di kebumen karean cukup banyak oleh karean ini PC Muslimat NU Kebumen untuk sebagai pembinaan pada grup mereka, ketua panitia berharap kegiatan-kegiatan kesenian Islam lebih sering di adakan. Agara kesenian tidak budar atau hilang tergantikan oleh Budaya Asing, yang mulai menjaur di Indonesia. (ekprs)
 

.

Support : Creating Website | bahrun grup | simponi
Copyright © 2011. Suara Muda Kebumen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by cs
Proudly powered by Blogger