Suara Muda
Headlines News :
BRAM Grup bahruninfo@gmail.com. Powered by Blogger.
Tridinamika Blog Kontes 2013
Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

NU dn Muhamadiyah Bersatu Menbangun Daearah

Acara inti malam tasyakuran atas dilantiknya Yahya Fuad dan Yazid Mahfud diisi tausiyah oleh dua Pimpinan Wilayah Jawa Tengah, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Ahmad Tafsir Ketua PW Muhammadiyah Jawa Tengah menyatakan bahwa NU dan Muhammadiyah di Kebumen ini akhirnya bersatu. Dia berharap jangan hanya karena ada kepentingan yang sama, tetapi selamanya selalu bersama.
“NU dan Muhamadiyah itu sesuai simbol mereka ibarat Bumi dan Matahari, matahari tanpa bumi tidak berfungsi, demikian juga bumi tanpa matahari jadi mati” Tutur Ahmad Tafsir dalam tausiyahnya. Sementara Ketua PWNU Jawa Tengah Abu Hafsin MA menyataan Kebumen menjad barmeter Nasional untuk bersatunya NU dan Muhammadiyah. “Inilah satu-satunya di Indonesia NU dan Muhammadiyah bisa bersatu menjadikan Bupati Kebumen, nanti semoga bisa di bawa ke Jawa Tengah bahkan Nasional” Tutur Abu Hafsin pada tausiyah kedua kebumen .

Tanpa Semen Hidup, Tanpa Air Mati

Korelasi slogan yang diduplikasi dari twitter Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia dan dilansir di rapat warga sebelum ini; begitu menginspirasi kesadaran banyak orang. Ini seperti menggugah kesadaran pentingnya ekologi lingkungan dan ruang hidup bersama.
Dalam konteks perijinan operasionalisasi industri semen, khususnya pt Semen Gombong, kesadaran ekologis demikian menemukan taut dan momentum serta manifestasinya dengan kebangkitan aksi-aksi massa. Serbuan kekuatan kapital pada sektor tambang semen di Jawa khususnya, memang tengah menggila.
Berbarengan dengan itu perlawanan massa rakyat anti tambang semen di berbagai daerah seperti Ajibarang, Rembang, Pati, Blora, Grobogan, Wonogiri, Tuban, dan Gombong selatan sendiri; rupanya belum cukup menyadarkan pemerintah setempat dalam merumuskan kebijakan terkait tata kelola sumber daya alamnya. Padahal potensi alam di kawasan karst itu bukan lah melulu bahan tambang yang depositnya terbatas, rentan dan tak terbarukan.
Menanggapi aksi massa hari ini (10/2) yang pada intinya menolak ijin lingkungan pt Semen Gombong, plt Kepala BPMPT Kebumen pun masih terkesan menyikapinya dengan pendekatan prosedural belaka. Retorika pernyataannya menunjukkan lemahnya komitment pemerintah dalam hal menjaga kelestarian ekologi lingkungan

Teriakan Warnai Pesta Warna (Color Party) di Kebumen

Pesta warna adalah kegiatan menebar warna kepada pelari yang ditentukan. Tetapi sepanjang perjalanan lari dia akan dilempari berbabagi macam zat sejenis tepung yang warna-warni. Kemeriahan terasa saat wajah tubuh, baju dan kaos, penuh dengan warna-warni. Teriakan, gelak tawa, jeritan dan segala macam suara tumpah ruah di alun-alun Kebumen. Pagi ini. (20/12).
Sebenarnya dari mana sih asal-muasal pesta warna atau Color Party ini? Mari simak. Holi atau Festival Warna adalah festival awal musim semi yang dirayakan di India, Nepal, Bangladesh, dan negara-negara yang memiliki penduduk beragama Hindu seperti Suriname, Guyana, Afrika Selatan, Trinidad, Britania Raya, Mauritius, dan Fiji. Acara Colour Fun Run ini mirip sekali dengan pesta holi.
Color party ini menyebar di Indonesia dengan cepat. Kegiatan ini digandrungi anak-anak muda dan remaja. Karena laki-laki dan perempuan bercampur baur. Diwarnai Teriakan-teriakan histeris. Pesta pagi ini dikunjungi warga Kebumen dari berbagai pelosok Kebumen.
“Aku sangat menikmati pesta warna itu, begiru ada pengumuman aku langsung berniat datang” Tutur Retno salah seorang pengunjung asal Karangsumbung. (Ayu)

Urutsewu Kritisi Tim Mediasi

Kebumen – Petani pemilik tanah pesisir Urutsewu memprotes upaya mediasi yang dilakukan Pemkab Kebumen dalam menindaklanjuti hasil kunjungan gubernur Jateng selama 2 harinya di Kebumen. Ganjar Pranowo yang meminta petani pesisir mengumpulkan bukti-bukti pemilikan tanah yang dipunya, merasa diabaikan keberadaannya karena tak disertakan sebagai pihak kunci dalam mediasi awal di Gedung F Setda Kebumen (14/9) lalu.
Ikhwal keberatan ini muncul saat belasan petani melakukan evaluasi atas pelaksanaan tahap awal mediasi yang menyertakan fihak TNI-AD, dari Kodim hingga perwakilan Kodam; tetapi mengabaikan keberadaan petani sebagai yang berhak atas tanah pesisir di dalam forum itu. Sehingga upaya menyelesaikan konflik agraria pesisir Urutsewu yang tengah diinisiasi Muspida Kebumen pun diragukan kredibilitas dan independensinya.
Terlebih karena dalam forum itu yang diundang hanya pejabat Kades dari 7 desa tertentu diantara 15 desa pesisir Urutsewu. Hal ini terkesan bahwa seolah yang melawan klaim TNI dan menolak pemaksaan pemagaran yang dilakukan TNI hanya lah 7 desa itu saja. Padahal khusus untuk pemaksaan pemagaran TNI yang dimulai sejak Oktober 2013 itu telah sejak awal muncul penolakan petani dan warga lainnya. Penolakan nyata muncul dari petani warga desa-desa yang dalam realitas sekarang telah selesai dipagar.
“Di forum itu ada pejabat TNI dan pemerintah, tetapi tak ada keikutsertaan petani pemilik tanah di dalamnya,” tegas seorang petani yang datang rapat evaluasi (16/9) di rumah seorang warga Kaibon Petangkuran, Ambal.
Di forum yang diinisiasi Muspida itu pula, dimana pejabat Kades mesti menyerahkan data bukti pemilikan tanah warga, tetapi tak ada keharusan pihak TNI menyerahkan bukti pemilikan yang jadi dasar klaimnya.
“Ini jelas tak berkeadilan, apalagi kenyataannya pemagaran oleh TNI jalan terus,” tukas seorang petani lain dari desa Kaibon yang tanah miliknya telah terlanjur terlanggar pemaksaan pemagaran oleh TNI.
Komposisi Tim Mediasi yang tengah dipersiapkan ini pun, rupa-rupanya tak memberi ruang bagi petani untuk merekomendasikan kalangan akademisi tertentu yang integritas serta intelektualnya sepenuhnya dapat dipercaya.
Logika Perampasan Tanah Petani
 Banyak hal penting terungkap dalam rapat informal dengan agenda pokok evaluasi aksi (16/9) malam itu yang jadi membukakan kesadaran baru dan sangat relevan dengan kelanjutan tahap perjuangan petani pesisir Urutsewu. Belakangan diketahui dari sumber LPSE TNI-AD yang bisa diakses laman webnya. Ternyata proyek prestisius pagar yang menandai hegemoni militer atas kawasan holtikultura pesisir ini bernilai 4 miliar 720 juta rupiah.
Dalam logika pembangunan yang umum, alokasi dana APBN sebegini besar merupakan hal yang tak mudah dimuluskan pelaksanaannya. Hal ini menandakan ada keterlibatan lintas kementerian dan lembaga negara di tingkat nasional, termasuk lembaga legislative pusat. Tetapi ironisnya, pembangunan pagar pesisir oleh TNI ini tak disertai dokumen lengkap. Ihwal ini juga tak dipertanyakan dalam meeting mediasi yang digagas Muspida Kebumen di Gedung F Setda yang lalu.
Padahal sebuah instansi pemerintah yang mau membangun kantor untuk menunjang fungsi penyelenggaraan Negara sekalipun; harus memiliki legalitas IMB.
Faktanya, ketika petani, warga dan unsur pemerintahan desa menanyakan perihal legalitas pemagaran pesisir di wilayahnya; malah dijawab dengan pentungan dan serangan brutal fihak militer. Contoh terakhir atas tindakan brutal ini adalah apa yang terjadi di pesisir desa Lembupurwo (30/7) serta pesisir desa Wiromartan (22/8) dengan 31 korban terluka, termasuk perempuan.
Semua ini membuktikan bahwa problem krussial pertanian pesisir Urutsewu bukan lah sebuah konflik agrarian, tetapi telah terjadi perampasan tanah-tanah pertanian yang dilakukan secara sistematis. Dan pemaksaan pemagaran oleh TNI, ditambah tindakan brutal terakhirnya; memperkuat bukti terjadinya perampasan tanah pertanian itu.

Urut Sewu Minta Dukungan Tuhan Dengan Mujahadah

Kebumen – Ragu itu manusiawi. Manakala ia -ragu itu- menjangkiti begitu banyak orang, maka pantang dijawab dengan kemenyerahan. Begitu lah, petani warga pesisir kawasan Urutsewu di Kebumen selatan; menjawab keraguan hatinya dengan bermunajjat. Dan mujahadah menjadi salah satu cara, menjadi metode dan wasilah bersama dalam membangun spiritualitas perlawanan terhadap ketidakadilan yang jadi penyakit sosial.
Petani warga pesisir Urutsewu tak menyalahkan pemerintah yang setengah hati merespons penyelesaian konflik agraria yang belasan tahun disandangnya. Tak juga mengutuki para legislator wakil rakyat yang takut memberi dukungan politik dan lalu memilih mbisu atas problem krussial konflik petani holtikultura pesisir versus militer ini.
Mujahadah jadi tarekat kebangkitan petani yang telah mengalami 3 kali kebrutalan militer dalam konflik agraria Urutsewu ini. Yakni tragedi Setrojenar 16 April 2011, penyerangan Lembupurwo 30 Juli 2015 dan terakhir serangan tentara di Wiromartan 22 Agustus 2015.
Kejatuhan para korban tak menenggelamkan daulat petani dalam trauma berkepanjangan. Perjuangan memang selalu ber resiko pengurbanan dalam berbagai bentuknya.
Dukungan Kaum Muda Terdidik
Petani Urutsewu atas konsistensi perjuangannya melawan hegemoni militeristik telah memanen dukungan politik dari kalangan mahasiswa Indonesia. Aksi-aksi solidaritas muncul di berbagai kota bahkan hingga luar pulau Jawa.
Bagi fihak militer, boleh jadi, dukungan solidaritas ini bisa dipandang sebelah mata; meski banyak aksi-aksi solidaritas ini tak luput dari intervensi dan intimidasi pihaknya. Aksi solidaritas mahasiswa Jogja di Km.0 dibubarkan, muncul aksi lain yang spektrumnya lebih luas. Aksi mahasiswa Samarinda diinterogasi Polisi Militer, tak berhenti dan tumbuh lagi. Begitu pun aktivis mahasiswa UnSoed yang diserbu teror pesan pendek.
Secara internal, petani Urutsewu yang merasa mendapatkan sekutu perjuangan, tak henti membangunkan spiritualitas dan kesadaran bahwa jalan perjuangan rakyat masih panjang. Keraguan pada rejim penguasa dijawab dengan bermunajat kepada Allah; sang penguasa alam semesta.

Ratusan Mahasiswa Grudug Gedung DPRD Tuntut Kesejahteraan Guru

Kebumen Ratusan mahasiswa perwakilan yang tergabung dalam GEMAPAGAR ( Gerakan Mahasiswa Peduli Anggaran Pendidikan ) PMII dan BEM IAINU Kebumen , menuntut kepedulian pemerintah terhadap Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang selama ini belum sejahtera. Mereka mendatangi kantor DPRD Kabupaten Kebumen untuk beraudeinsi.
“Meminta kesejahteraan guru disetarakan dengan UMKR, dan mendorong peningkatan anggaran untuk GTT pada anggaran tahun 2016 ,” ujar Kordum Gemapagar, Afifudin di depan Komisi A DPRD Kebumen, Kamis (8/9/2015).
Peserta aksi diterima untuk audiensi dengan anggota DPRD yang di wakili Komisi A. Sidang dipimpin Yudhi Tri Hartanto SH. Peserta aksi menuntut agar DPRD membuat surat pernyataan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan bagi para GTT pada anggaran tahun 2016 . Surat pernyataan tersebut selain ditanda tangani ketua juga harus ditandatangani oleh peserta sidang.
Adu argumen antara anggota DPRD dan mahasiswa berlangsung cukup lama, hingga akhirnya sepakat  surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh peserta sidang. (bram)

Sedang diskusi, Ganjar tiba-tiba didemo mahasiswa Kebumen

 Belasan mahasiswa dan masyarakat Kebumen, Jawa Tengah yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (Gempar) Rabu (9/9) malam ini sekitar pukul 21.30 WIB melakukan aksi unjuk rasa atau demo di Halaman Pendopo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen, Kawasan Alun-alun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Aksi itu digelar tepat saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sedang menjadi pembicara dalam acara 'Ngopi Bareng Ganjar' di Pendopo Kabupaten Kebumen bersama perangkat desa, camat, lurah se Kabupaten Kebumen terkait beberapa persoalan di wilayah Kebumen.

Belasan mahasiswa dan warga itu secara tiba-tiba dilakukan di Alun-alun Kebumen yang didominasi mahasiswa PMII Kebumen itu diawali dengan orasi. Dengan bergandengan tangan mereka secara bergantian melakukan orasi terkait tuntutan mereka supaya Ganjar menyelesaikan kasus Urut Sewu.

Dalam orasinya, belasan mahasiswa dan warga itu menuntut dan mendesak supaya Ganjar Pranowo untuk segera melakukan proses penyelesaian kasus bentrokan antara TNI dan warga Urut Sewu yang sampai saat ini belum tuntas.

"Kita selaku mahasiswa menginginkan agar kasus Urut Sewu di Kebumen ini segera diselesaikan. Ini adalah momen paling tetap dengan para pejabat kecamatan sedang berkumpul dan berdiskusi. Persoalan urut sewu bukan persoalan yang baru. Bukan hanya satu orang yang menjadi korban bentrokan. Bahkan puluhan! Bahkan ratusan orang!" ungkap Koordinator Aksi Bayu Winarso kepada wartawan disela-sela orasinya.

Aksi yang dilakukan di malam hari dan tanpa adanya izin atau pemberitahuan itu langsung mendapatkan penjagaan ketat dari aparat kepolisian Unit Dalmas Polres Kebumen yang dipimpin langsung oleh Wakapolres Kebumen Kompol Parasian Herman Gultom.

"Aksi anda tanpa izin. Jangan orasi! Hentikan orasi! Kalau tidak akan kami bubarkan!" teriak Gultom yang berdiri di belakang barisan anggota polisi Dalmas Polres Kebumen.

Namun, belasan mahasiswa dan warga itu tetap melakukan orasi dan hingga akhirnya didesak oleh polisi dan terjadilah aksi saling dorong mendorong antara pendemo polisi. Hingga akhirnya, aksi yang mayoritas diikuti mahasiswa beralmamater Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut bubar.

Meski sudah dibubarkan dan dilarang untuk berorasi, sampai saat ini belasan mahasiswa dan warga tetap bertahan, duduk-duduk disekitar Alun-alun Kabupaten Kebumen menunggu Ganjar Pranowo untuk menemui dan menanggapi aksi mereka.

"Saya ingin tetap bertemu. Saya yakin mereka pasti akan temui kita. Kita minta dan mau membuktikan sejauh mana pemerintah sanggup dan mampu membackup kasus ini supaya segera selesai," pungkas salah satu peserta aksi tersebut. Merdeka.com -
[tyo]

Kronologi Serangan TNI Terhadap Warga Urut Sewu di Wiromartan, 22 Agustus 2015

07.30 – 09.45 wib:  Massa rakyat warga desa, terdiri dari petani, pemuda dan perempuan; berkumpul di utara jalur Jln. Daendels di desa Wiromartan, Mirit;
-Pada saat yang sama, di ruas jalan seputar gerbang kantor Pemkab dan DPRD [timur alun2 Kebumen] baru selesai dilaksanakan apel pasukan ber-uniform PHH, polisi [termasuk polwan], tentara dan jajaran intel berpakaian sipil;
-  Di lokasi kumpulnya massa rakyat, disampaikan orasi pembekalan oleh Kades Wiromartan, Widodo Sunu Nugroho; dan membaca doa bersama dipimpin oleh ustadz setempat;
-  Massa rakyat sebanyak 100-an beriringan naik sepeda motor menuju ke lokasi pemagaran TNI di 750-an meter arah selatan;-  Diantara massa yang bergerak itu ada pula petani dari desa lain di kecamatan Mirit dan desa-desa lain yang ikut bersolidaritas, yakni dari Kaibon Petangkuran, Setrojenar, Ayamputih.
09.56 – 10.15 wib :  Massa rakyat tiba di lokasi dan langsung menuju titik pemagaran di sisi barat jalan akses menuju pesisir;
-  Di lokasi pemagaran terdapat 2 unit truk militer dan 1 alat berat eskavator tengah melakukan aktivitas pemagaran, sesuatu yang ditolak oleh warga terutama para petani pemilik dan penggarap lahan pertanian pesisir Urutsewu;
-  Beberapa petani yang tengah bekerja tak jauh dari lokasi pemagaran ikut bergabung dengan warga di lokasi pemagaran, di sebuah lahan tanaman cabe dan lahan-lahan tanaman lain pada zona itu yang juga terlanggar;
-  Massa rakyat beralasan pemagaran yang menerjang lahan-lahan milik petani sebagai ilegal, tak berijin, tanpa pamit atau pun pemberitahuan ke pemerintah desa setempat;
-  Salah satu warga yang membawa megaphone menyampaikan maksud kedatangan warga dan meminta pimpinan proyek pemagaran TNI menemui warga yang datang ke lokasi;
10.15 – 10.30 wib :  Kades Wiromartan Widodo Sunu Nugroho yang mengiringi warganya, dengan berpakaian dinas Kades, menyampaikan orasi melalui megaphone diantara warga dan pasukan militer dari satuan Zipur;
-  Dalam orasinya Kades menyampaikan pandangannya, tentang tiadanya dasar legalitas pelaksanaan proyek pemagaran, tanpa pemberitahuan ke pemerintah desa, dan hal-hal lain yang justru mencederai profesionalitas institusi TNI sendiri;
-  Kades juga meminta berkomunikasi dengan komandan yang bertanggung jawab memimpin pelaksanaan proyek pemagaran di lokasi pesisir desa yang menjadi bagian wilayah desanya itu;
-  Seruan permintaan Kades ini dibalas dengan suara musik dangdut dengan dukungan sound-system power besar yang rupanya telah disiapkan tentara di lapangan;
-  Pada rentang waktu yang sama, aktivitas eskavator dengan roda berantainya menggilas tanaman tetap berjalan sebagaimana sebelumnya, yakni mengangkut dan membongkar bawaan material pemagaran,
-  Atas fakta lapangan ini, massa rakyat yang melihat spontan meneriaki kerusakan tanaman cabe milik petani;
10.30 – 10.40 wib :  Pada saat Kades Wiromartan masih menyampaikan orasinya dan permintaan untuk berkomunikasi dengan komandan lapangan tak digubris, tentara merangsek maju menutup titik pemagaran;
-  Dari jarak 200-an meter arah barat, bergerak pula segerombolan tentara yang tengah menuju lokasi titik pemagaran;
-  Kades Wiromartan yang masih mencoba menyerukan agar tentara tidak bertindak kekerasan, malah langsung dijawab dengan aksi pemukulan yang membabi-buta;
-  Pukulan ini melukai kepala Widodo Sunu Nugroho, dan darah mengucur menutupi wajahnya yang membuat Kades ini menyingkir tapi tak melarikan diri dari lokasi karena melihat warga desanya juga dipukuli pentungan tentara;
-  Sejauh 7 meter dari titik penyerangan pertama, terlihat seorang pemuda dipukul keroyokan oleh tentara, terjatuh dan diinjak-injak sepatu lars. Korban ini jatuh pingsan di lokasi saat itu juga;
-  Ada belasan lagi warga lainnya, termasuk perempuan, tercerai-berai kena pukulan toya tentara, terdengar pula suara tembakan peluru hampa di lokasi;
-  Kebrutalan militer ini menyusul menimpa Kades sehingga akhirnya Widodo Sunu Nugroho pun jatuh pingsan;
10.45 – 11.00 wib :  Kades Wiromartan bersama 1 warga yang jatuh pingsan di lokasi serangan militer, dievakuasi dengan menggunakan sepeda motor ke Puskesmas Mirit;
-  Saat warga mengevakuasi korban yang membutuhkan pertolongan ini, ternyata ada mobil patroli polisi yang hanya diparkir diam dalam jarak 100 meter sebelah utara lokasi serangan, tanpa melakukan tindakan apa pun.  ( AP45 )

Pengalaman Mengurus Akte, KK dan KTP Luar Biasa


 Luar biasa kebijakan pemerintah dalam rangka pelayanan administrasi negara untuk masyarakat. Rencana Mendagri per tanggal 1 januari 2014 menggratiskan pembiayaan KTP, Akte dan KK.
Mendagri Gamawan Fauzi, mengatakan," memang benar ada pembebasan biaya administrasi kependudukan. Ini merupakan hasil dari revisi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk), yang telah disepakati baik oleh Komisi II DPR maupun mendagri.
Gamawan menambahkan," Selain pembebasan biaya, RUU Adminduk juga mengalami beberapa perubahan signifikan, juga  pemberlakuan azas stelsel aktif pemerintah dalam pendataan penduduk. Azas ini mewajibkan pemerintah mencari penduduk tanpa surat kependudukan dan membuatnya sekaligus," Kata Gamawan.

Kabar gratis pengurusan KK, Akte dan KTP bagi sangat baik, Eko Wahyudi (32) warga Kebumen, pengalaman mengurus Akte, KK dan KTP di kantor Dinas Catatan Sipil dan kependudukan Kabupaten Kebumen sangat susah dan mahal. Wahyu mengetahui ada pungutan liar dengan bahasa "seiklhasnya",padahal dana APBD  dana biaya pegawai negeri sudah dibayar sebagai pelayan masyarakat, dan itu dianggarkan APBN. Alasaan klasik, untuk biaya cetak dan kertas serta cap. kata para petugas. Padahal ini sudah dianggarkan semua oleh negara," kata Wahyu.
Lanjut Wahyudi, kecuali itu kepengurusan KTP, Akte dan KK sangat berberlit-belit, akhirnya warga malas mengurus dan menunggu lama. Pada akhirnya warga membayar menyuruh orang atau pegawai untuk pendapatan tambahan  mengurus adminstrasi yang sangat vital ini.
Wahyu curiga," apakah ini jalan lubang pekerjaan baru  lahan sehingga bagi yang punya uang 
betulkah hal ini jalan korupsi yang sudah lama, sudah banyak kerugian selama ini.  menjadi alasan bagi wahyu tidak mengurus Akte dan KK serta Akte. 2011 ada perda di Kebumen pembiayaan Akte 600 ribu jika telat. ditambah biaya dari surat pengantar desa, surat pengantar dari kecamatan, lagi lagi biaya legalisir.
Wahyu  kecewa,"ini langkah korupsi  sebagai jalan "mencari uang tambahan " oleh para pegawai negeri mulai dari desa, kecamatan dan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan selama ini. Sudah berapa juta bahkan Milyard ? warga sudah saatnya jangan dibodohi,"  tandas Wahyu.
Sehingga menurut Wahyu, masih menarik uang dari ukuran sudah tidak ada uang "saeikhlasnya" di kotak amal atau dibawah map atau membayar lewat petugas. selama ini pembayaran KK, KTP dan Akte sangat membebani warga, sebenarnya warga mau membayar. tapi uang pembayaran itu tidak pake kwitansi. bukan di Discapilduk saja., di kantor kelurahan dan kecamatan masih ada pungutan kotak amal " seikhlasnya".kata  Wahyu.
Wahyu berharap mudah mudahan negeri ini  kearah perbaikan, dan memohon kepada pemerintah Kabupaten Kebumen untuk bisa meneruskan Kebijakan Gratis KTP, Akte dan KTP 1 Januari 2014 tanpa ada pungutan-pungutan serupiahpun." harap Wahyu. SMBR ( News Indonesia )

Bupati Kebumen Diikuti Dua Ribu Guru



Setelah upacara dalam rangka hari PGRI ke 68 tahun 2013 bersama Bupati Kebumen di Pendopo Bupati Kebumen diikuti dua ribu Guru. Ternyata bukan sekedar Ulang tahun  saja, dua ribu guru dari pelosok penjuru Kebumen dalam wadah forum komunikasi GTT-PTT kemarin, Senin19/11/13,melakukan Aksi unjuk rasa ke DPRD meminta kesejahteraan Guru.

Demonstrasi dua ribu guru  tersebut denga jalan kaki membawa spanduk, yel-yel perjuangan guru dengan kompak. para Guru setelah memutar alun-alun Kebumen, para Guru melakukan orasi di depan kantor Dikpora jalan pahlawan, kemudian orasi di halaman DPRD jalan Veteran.
Pantauan News Indonesia, walaupun basah kuyup dan meninggalkan murid-murid kelas disekolah, para guru dengan semangat melakukan orasi, para guru kemudian masuk diterima Ketua DPRD Kebumen Ir.Budi Hian Susanto menyuarakan aspirasi. (red).

Muhammad Nasuha Ketua Forum Komunikasi GTT-PTT se Kabupaten Kebumen menyampaikan aspirasi, "kami meminta kejelasan status GTT/PTT, keberadaan kami terganjal PP no 48 tahun 2005,sehingga tidak bisa menerima insentif dari pemerintah, kami sehingga tidak bisa masuk golongan K1/K2." kata Nasuha dengan lantag diikuti yel-yel perjuangan guru." Kata Nasuha. 

Nasuha menambahkan," kami sudah bertahun-tahun  mengabdi disekolah TK,SD,SLTP dan SLTA. ini kepedulian mencerdaskan bangsa hanya digaji 100 ribu perbulan. Kami meminta pemerintah Bupati Kebumen Buyar Winarso SE dan terutama kepada Ketua DPRD untuk bisa membuat anggaran bagi kami dan memperjuangkan kebijakan pearaturan yang memihak kepada guru," pinta Nasuha.

Nasuha juga meminta kepada Ketua DPRD Budi Hian Susanto ketika diterima audiensi ribuan guru agar bisa dianggarkan APBD 2014.Jawaban klise (basa-basi) Ketua DPRD Kebumen Ir.Budihianto biasa akan diperjuangkan aspirasi, ketua DPRD tidak tegas langsung memperjuangkan aspirasi guru pada waktu itu juga, membuat dua ribu guru Tidak Tetap (GTT) akan malang nasibnya.

Ketua PGRI Kebumen Gus Septadi,"kami mendukung aspirasi para Guru GTT-PTT audiensi DPRD Kebumen, mereka berhak menanyakan nasib guru GTT yang tidak masuk anggaran APBD, semoga ulang tahun PGRI Kebumen sebagai jalan untuk pembelaan advokasi kepada para anggota PGRI." kata Gus Septadi (i) NEWS Indonesia

Mendorong Transformasi Politik Kaum Muda

SuaraMuda-Dalam berbagai tulisan, termasuk yang pernah ditulis Soe Hok Gie di Jaman Peralihan, ada sebuah anekdot menarik tentang orang tua dan orang muda. Intinya, begini. Ada seorang tua yang selalu berulang-ulang menegaskan kepada seorang pemuda bahwa merekalah yang layak memegang kekuasaan karena memiliki pengalaman yang panjang dalam hidupnya. Orang muda dianggap masih belum matang dan minim pengalaman. Padahal, bagi si orang tua, persoalan kepemimpinan adalah persoalan pengalaman bukan sekedar pengetahuan. Kedua orang tersebut lantas berdebat panjang yang sangat alot. Sampai akhirnya si orang tua mengatakan: “Hei, anak muda. Aku pernah muda seperti kamu. Tapi kamu belum pernah menjadi tua seperti aku, kan ?” Si anak mudapun dengan ketus menjawab: “Ya, saya belum pernah tua seperti anda, tapi anda juga tidak pernah menjadi orang muda di jaman saya!”.
Mendefinisikan Kaum Muda. Ilustrasi tersebut menggambarkan tentang bagaimana dua generasi yang berbeda membahas tentang bagaimana masing-masing harus berperan dalam proses sosial-politik. Pertengkaran ini selalu muncul karena satu pihak mengatakan pengalaman yang kuat itu penting, sedang yang satu lagi mengatakan bahwa tantangan jaman sudah berbeda dan tidak bisa dijawab dengan pengalaman yang dimiliki generasi terdahulu.
Saya kira kita semua sepakat bahwa tantangan yang dihadapi setiap kaum muda berbeda-beda dari jaman ke jaman. Dalam pijakan semacam ini maka memang dibutuhkan proses dan mekanisme politik yang lebih inovatif dan responsif terhadap jaman. Dalam konteks inilah memahami problematika kaum muda dalam politik menjadi sangat relevan.
Lalu bagaimanakah seharusnya kaum muda dibaca dalam politik? Pertama-tama kita perlu memetakan beragam pandangan tentang kaum muda. Ada beragam macam cara pandang atas hal ini seperti yang terangkum dalam berbagai literature.  Setidaknya terdapat empat dikotomi dalam mendefinisikan kaum muda (Cordeiro, 2006: 12-15)
  1. Kaum muda sebagai kategori tunggal vs plural
Orang sering mendefinisikan kaum muda dalam kategori tunggal dimana yang disebut kaum muda dianggap memiliki karakter, corak kebudayaan, cara berpikir, bersikap dan berperilaku yang seragam. Padahal kalau dilihat lebih jauh ada pluralisme dalam kategori kaum muda. Misal dilekatkan karakter: urban-rural, kelas ekonomi bawah-menengah-atas, laki laki-perempuan, agama, dll.
  1. Muda sebagai kategori biologis vs identitas sosial
Dalam konteks target kebijakan kaum muda sering didefinisikan sebagai kelompok masyarakat yang berada dalam usia tertentu. PBB misalnya mendefinisikan kaum muda adalah yang berusia antara 15-24 tahun. Meski begitu berbagai Negara memiliki beragam ukuran untuk mendefinisikan kaum muda dalam kebijakan mereka (Argentina 14-30, Portugal 15-25, Nikaragua 18-30). Definisi ini ditentang oleh banyak kalangan yang menyatakan bahwa muda bukan sekedar persoalan usia akan tetapi state of mind dan state of spirit yang berbeda dari satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain (Cote dan Allahar, 1996).
  1. Kaum muda sebagai persoalan masyarakat atau kaum muda sebagai solusi?
Dalam cara pandang konservatif, orang-orang muda dianggap sebagai pembangkang, pemberontak, tidak tahu sejarah, dan label-label negatif lain. Dalam cara pandang ini kaum muda harus didisiplinkan dengan segala mekanisme. Perspektif semacam ini ditentang oleh sebagian kalangan karena mengabaikan bahwa kaum muda justru memiliki sumberdaya penting bagi solusi problem masyarakat. Menurut pengikut pendekatan ini, problem yang dialami kaum muda dalam masyarakat adalah konsekuensi logis dari skema pengaturan sosial yang dibangun mereka yang berkuasa (kaum non muda). Selain itu bukankah yang mengalami problem moralitas dan masalah-masalah lainnya juga menjangkiti kaum non muda? Menurut pendekatan ini kaum muda justru dianggap lebih inovatif dan responsif terhadap perkembangan jaman.
  1. Kaum muda sebagai pemilik ‘hari ini’ atau pemilik ‘masa depan’?
Hal ini telah menjadi debat panjang dalam wacana politik dan pembangunan. Banyak kalangan bahwa kaum muda adalah harapan bangsa dan penentu masa depan bangsa. Ini bisa dibaca begini: “giliran kaum muda nanti saja kalau sudah dewasa atau tua. Hari ini biarkan kami yang memimpin dan mengelola bangsa.” Hal ini juga telah memunculkan kritisisme beberapa kalangan karena kaum muda juga menanggung persoalan yang ada hari ini sehingga mereka juga harus terlibat untuk merubahnya.
Menurut saya, dalam konteks ideologis transformatif, maka kaum muda perlu diletakkan dalam kategori yang plural, sebagai identitas sosial, sebagai sumber solusi bangsa dan sebagai salah satu pemilik ‘hari ini’. Kaum muda sangat beragam dari sisi kelas sosial dan identitas diri. Mereka muda bukan karena usia, tapi lebih mewakili semangat transformatif untuk mengelola hari ini dan masa depan dengan proses-proses yang inovatif dan responsive terhadap perubahan jaman.
 Problema Kepemimpinan Politik. Dalam sejarahnya isu tentang peran politik dan kepemimpinan kaum muda selalu muncul dalam perdebatan di masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia. Dalam era modern barangkali salah satu sengketa politik besar yang pernah tercatat dalam sejarah konflik antara generasi tua dan generasi muda adalah perlawanan kaum muda Perancis, Mei tahun 1968 (yang dikenal dengan Paris ’68).
Pada bulan tersebut mahasiswa dari seluruh penjuru Perancis berkumpul di universitas-universitas di Paris dan memobilisasi pemogokan serta protes terhadap pemerintah. Protes ini lahir dari berbagai hal mulai dari problem kesejahteraan sosial yang makin meningkat, ketimpangan sosial yang tinggi serta, tata politik yang makin otoriter dan meminggirkan peran-peran pemuda dalam politik. Para pelajar dan mahasiswa ini memang menuntut adanya reformasi universitas yang jauh lebih baik infrastrukturnya, isi pengajaran serta metode-metode yang disesuaikan dengan metode-metode modern dan kebutuhan bangsa secara luas. Namun kalau dilacak lagi, mereka sedang menuntut para pemimpin politik yang didominasi kelompok non muda pada waktu itu agar mau membaca dan merespon perubahan dan kebutuhan jaman.
Dalam kasus Indonesia di awal-awal kemerdekaan, pertengkaran antar generasi juga muncul sangat kuat terkait dengan bagaimana republik hendak dibawa. Bahkan dalam perjalanannya hampir semua transisi politik di Indonesia hubungan antar generasi cenderung mengalami masalah yang serupa. Generasi muda berperan mendorong perubahan di awal, dan bahkan menjadi motor utama, namun pada gilirannya hasil akhir tetap berada di tangan elit-elit generasi non muda. Ini tergambar jelas misalnya dalam kasus transisi tahun 1966 dan 1998 dimana peran mahasiswa dan pemuda yang begitu kuat di dalam proses pergerakan, namun mereka tidak mendapatkan representasi politik yang memadai, apalagi dilibatkan dalam pengambilan keputusan-keputusan politik yang strategis. Mereka hanya menjadi penonton yang kecewa.
Di sebagian kalangan muda resistensi terhadap situasi ini dilakukan lewat apatisme dan sinisme terhadap politik. Politik dan pemerintahan dianggap hanya menjadi arena bermain generasi non muda. Fenomena semacam ini berlanjut terus hingga kini dan bahkan kemudian memunculkan anggapan bahwa kaum muda semakin sinis dan apatis terhadap politik. Atau lebih parahnya lagi muncul anggapan bahwa kaum muda mengalami degradasi moral.
Dalam konteks yang mutakhir, apatisme sebagian kalangan muda ini dijustifikasi oleh beberapa temuan yang menunjukkan dengan tingginya angka golput di kalangan pemilih generasi muda dibandingkan dengan golput  di kalangan generasi non muda. Survey yang dilakukan Jurusan Ilmu Pemerintahan terhadap pemilih di Yogyakarta menunjukkan bahwa mereka yang memutuskan tidak memilih di pemilu legislatif lalu sebagian besar adalah kelompok  usia 17-35 tahun dengan persentase sebesar 63%.
Apakah gambaran tersebut mencerminkan bahwa kaum muda memang mulai menjarakkan diri dari politik? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Kalau dilihat dari kacamata sistemik memang sangat bisa jadi politik menjadi hal yang dianggap ‘tidak menarik’  buat kaum muda. Ini terjadi karena transfer kepemimpinan ke kaum muda tidak berjalan sesuai yang diinginkan. Idealnya dalam semua organisasi sosial terjadi proses kaderisasi yang kontinyu untuk menghasilkan rotasi kepemimpinan yang matang. Bagi kaum muda, politik dalam arti sistemik juga dilihat tidak lagi menarik karena terjadi pemandegan generasi dalam berbagai organisasi sosial ( mulai dari partai politik, birokrasi, lembaga-lembaga negara, lembaga-lembaga kemasyarakatan, dll). Ada keengganan yang kuat dari kelompok non muda untuk mengalihkan posisi mereka dalam organisasi kepada kelompok-kelompok muda. Itu barangkali yang menjelaskan mengapa banyak kaum muda yang memilih untuk tidak memilih dalam pemilu. Menurut mereka, toh yang akan menikmati adalah yang itu itu saja.
Dalam konteks politik nasional, kita bisa menyaksikan juga bagaimana elit-elit nasional yang bertarung adalah orang-orang lama. Rotasi kepemimpinan politik mengalami kemandegan. Partai politik gagal menghadirkan orang-orang baru (orang-orang muda yang inovatif dan kreatif). Beberapa partai memang sudah berupaya untuk melakukan transformasi kepemimpinan ke kaum muda, tapi toh tatkala pragmatisme politik mengedepan proses ini justru diingkari. Orang-orang lama kembali masuk dan memotong proses yang sedang dibangun oleh kader-kader mudanya. Apabila proses semacam ini terus berlangsung kedepan bisa dipastikan bahwa kader-kader partai yang berkualitas tidak akan pernah muncul lagi dalam sistem politik kita. Lebih parah lagi, pemilu dan partai dianggap tidak lagi penting oleh kaum muda.
Di tengah berbagai pesimisme itu ada juga yang menyatakan optimismenya. Mereka mengatakan bahwa antipati dan sinisme kaum muda terhadap politik sebenarnya tidak terjadi (kalaupun terjadi itu terjadi dalam taraf yang minor). Yang sekarang sedang terjadi adalah perubahan arena politik kaum muda. Bagaimana ini dijelaskan?

Transformasi Politik Kaum Muda di Indonesia
Di era sekarang ini, tantangan dan persoalan yang dihadapi kaum muda makin kompleks dan rumit dibanding masa-masa sebelumnya. Arus deras konsumerisme, pragmatisme uang, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (internet, HP, televisi) membuat pola interaksi sosial dan politik kaum muda tidak lagi bisa diatasi dengan cara pandang lama. Meski begitu, ternyata proses semacam ini juga telah memberi peluang-peluang baru bagi kaum muda untuk makin mengembangkan diri mereka. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya,  telah memberi wadah baru bagi mereka untuk mendorong tumbuhnya inovasi pengetahuan dan teknologi yang lebih luas.
Dalam situasi ini, arena politik tidak lagi bisa dibaca dalam konteks politik formal semata (partai politik, lembaga-lembaga negara, pemilu, dll) tapi juga merambah ke dalam arena arena yang terkait dengan persoalan sehari hari(everyday life politics). Isu isu yang muncul dalam everyday life politics ini tidak lagi soal sistem tapi soal-soal riil sehari hari. Misalnya, persoalan lingkungan,  olah raga, musik, dll. Di arena inilah kaum muda pelan pelan mulai menggeser keterlibatan politik mereka. Banyak di antara mereka yang kemudian memilih untuk masuk ke organisasi lingkungan, perempuan, hobi. Atau menjadi pekerja seni transformatif (lewat film, musik, karikatur, komik, dll). Bagi mereka arena-arena ini jauh lebih menarik ketimbang masuk ke organisasi-organisasi politik formal. Di arena-arena tersebut mereka juga bisa berpolitik dan melakukan perubahan dengan cara mereka sendiri.
Fenomena everyday life politics in dalam taraf tertentu mulai mengaburkan batas antara ‘apa yang politik’ dan ‘apa yang tidak politik’. Di era 1990-an, orang memberi label generasi muda saat itu sebagai ‘generasi MTV’. Kini ia sudah berubah menjadi ‘generasi Facebook’. Sebagian kaum muda bisa menyalurkan hobi dan berinteraksi sosial tapi pada saat yang sama bisa mengkonversi hal tersebut sebagai alat politik baik sosialisasi, mobilisasi dan pengembangan jejaring politik.
Namun kita juga perlu mencermati bahwa apa yang disebut sebagai kaum muda di Indonesia pun sangat beragam. Mereka sangat tersegmentasi dari segi kelas sosial, tingkat modernitas, orientasi kultural, dsb. Artinya, keterlibatan dalameveryday life politics juga beragam dari satu kelompok sosial dengan yang lain.
Berdasar kenyatan inilah saya hendak menegaskan bahwa berkembangnya aktivitas everyday life politics di sebagian kalangan muda tidak bisa menjadi justifikasi bahwa arena politik formal tidak penting dan tidak diperlukan lagi. Ranah politik formal tetap saja diperlukan kaum muda karena di sanalah isu-isu strategis (termasuk yang terkait dengan everyday life activities) bisa dipengaruhi. Keengganan kaum muda untuk terlibat aktif dalam politik formal (entah sebagai perlawanan atau apatisme) justru berpeluang melanggengkan mekanisme politik yang tidak sehat dan melahirkan kader-kader pemimpin baru yang tidak matang menghadapi. Kegagalan merebut representasi politik hari ini jelas akan membawa pada problema politik  di masa depan.
Agenda-Agenda Makro. Tulisan saya menunjukkan bahwa kaum muda Indonesia sekarang mengalami transformasi sosial politik yang luar biasa. Interaksi dengan dunia luar, pengetahuan baru dan suasana sosial baru telah menciptakan tantangan politik. Sebagian dari mereka mulai mengalami pergeseran imajinasi tentang politik, serta pergeseran arena  (meski magnitude-nya perlu dikaji lagi).
Untuk itulah maka diperlukan agenda-agenda perubahan yang lebih diorientasikan pada pengembangan struktur peluang bagi kaum muda. Negara perlu didorong lewat tekanan politik untuk membangun kebijakan yang memberi ruang pengembangan kapasitas kaum muda dalam berorganisasi dan berpolitik. Kaum muda perlu didengar sehingga mereka tidak hanya menjaditarget kebijakan tapi juga aktor perubahan.
Pada level masyarakat, kaum muda perlu menguatkan arena-arena yang selama ini menjadi ranah mereka. Arena ini semestinya menjadi wahana pematangan diri dalam proses sosial sehingga dibayangkan akan melahirkan kader-kader pemimpin yang tidak hanya muda dari sisi usia tapi juga dari sisi semangat, state of mind dan state of spirit. Inovasi pengetahuan dan kreativitas sosial akan lahir dari proses ini. Dengan cara semacam ini maka bisa diminimalisir munculnya kader-kader muda yang memiliki cara berpikir konservatif.
Sementara itu organisasi-organisasi politik (terutama parpol) juga perlu menjaga proses rotasi kepemimpinan dan kaderisasi politik yang lebih baik. Parpol perlu memberi kesempatan lebih luas bagi kader mudanya untuk terlibat memikirkan dan merumuskan agenda-agenda strategis partai. Hanya dengan cara semacam ini maka kelangsungan partai ke depan akan terjaga.
Dan yang terakhir kelompok-kelompok muda yang berada dalam ranah masyarakat sipil, negara, pasar, keluarga mesti mampu memanfaatkan energi sosial yang dimilikinya untuk melakukan transformasi dari dalam. Paper ini dipresentasikan dalam Seminar Nasional Kepemudaan, Komite Sumpah Pemuda Indonesia, 30 Mei 2009, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

POLITIK KAUM MUDA " Menarik atau Menakutkan "


SuaraMuda-Banyak kaum muda yang memilih bersikap apatis atau apolitis terhadap situasi politik nasional. Padahal, Pemilu 2014 sudah di depan mata. Mengapa kepedulian kita bisa berdampak besar terhadap masa depan bangsa? 

”Menurut gue politik itu abuabu. Enggak bisa sepenuhnya jujur,” ujar Ben, mahasiswa jurusan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Semarang. ”Memang enggak semuanya pembohong. Tapi seringnya selalu ada kepentingan di balik suatu langkah yang diambil,” tambahnya. Banyak kejadian yang membuat Ben kecewa terhadap politik yang dilakukan bangsa Indonesia. 

Mungkin Ben tidak sendiri. Mungkin banyak remaja dan mahasiswa lain yang memiliki sikap pesimistis seperti Ben. Namun, benarkah politik itu buruk? Benarkah politik Indonesia adalah ”politik negatif” seperti yang ada di pikiran Ben? Politik memang bukanlah topik ringan untuk dijadikan bahan diskusi. Namun, harapan untuk mengubah nasib bangsa sebenarnya masih terbuka lebar. 

Nyatanya, masih ada lohbeberapa anak muda yang menanggapi persoalan politik dari sudut pandang positif. Bahkan, ada di antara mereka yang menunjukkan aksi nyat. Lihat saja Wahid Chandra. Mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta ini berpendapat bahwa generasi muda bangsa seharusnya tidak apatis dan apolitis terhadap situasi politik nasional. 

”Pemuda adalah tumpuan bangsa yang mestinya terlibat aktif dalam membahas isu-isu kekinian,” koarnya bersemangat. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional ini memang tidak menampik bahwa banyak sekali anak muda yang memilih untuk menjadi golput dalam berbagai pemilihan umum, mulai pilkada hingga pemilihan presiden dan wakil presiden. Menurut dia, hal itu wajar. 

Bahkan, golput bisa dibilang pilihan yang paling mudah dan masuk akal bagi anak muda. ”Banyak anak muda yang sudah jenuh melihat karut-marutnya situasi politik nasional, korupsi yang merajalela, serta partai politik yang hanya memikirkan kepentingan golongannya,” paparnya. 

Meski demikian, Wahid masih memiliki harapan bahwa ke depannya anak muda harus aktif dalam menanggapi isu-isu nasional. Melakukan diskusi aktif bisa dijadikan salah satu sarana sadar politik, di samping juga menggunakan media sosial dalam menyampaikan aspirasi. Memang, tak semua muda-mudi memiliki ketertarikan melakukan diskusi-diskusi semacam itu. Namun, disadari atau tidak, Indonesia memang sedang melangkah menuju ke pesta demokrasi pada 2014 mendatang, yang tinggal menunggu hitungan bulan. 

Reni Suwarso, dosen sekaligus direktur dari Center For Election and Political Party (CEPP) FISIP Universitas Indonesia, mengatakan bahwa pada Pemilu 2014 diprediksi ada sekitar 53 juta pemilih muda yang berusia 17 sampai 29 tahun. Jumlah tersebut dibagi ke dalam beberapa bagian. Pertama adalah anak muda dengan status sosial ekonomi (SSE) menengah dan bawah, yang pragmatis akan politik. 

Kedua anak SMA atau mahasiswa dengan SSE menengah, yang paham politik, tetapi alergi politik. Dan ketiga adalah anak muda aktivis organisasi yang sangat paham dan mau aktif terlibat dalam berbagai kegiatan politik. Menyambung pendapat Wahid, Reni juga memaparkan alasan yang membuat generasi muda zaman sekarang cenderung apolitis. 

Menurutnya, kebanyakan anak muda masih kurang dalam memperoleh pendidikan atau pengetahuan politik. Mereka cenderung mendapatkan informasi yang tidak tepat. ”Ya, politik yang selama ini dipahami adalah politik yang salah. Politik bukan hanya soal bagaimana mendapat dan mempertahankan kekuasaan, juga bagaimana menggunakan kekuasaan untuk mengalokasi atau mendistribusikan sumber-sumber kekayaan alam, kekayaan manusia seperti keberagaman atau pluralisme, kekayaan akal, pikiran, ide dan kemampuan kerja manusia, supaya manusia bisa hidup aman, sejahtera, adil, dan sentosa,” paparnya. 

Menurut Reni, sebagian besar politisi saat ini tidak pernah belajar politik. Mereka mau terlibat politik dengan tujuan memperoleh kekuasaan besar. Oleh karena itu, yang dibutuhkan Indonesia sekarang adalah negarawan, orang yang memikirkan dan bekerja untuk negara. Jika permainan politik negara tidak berubah ke arah yang baik, Reni berujar, jangan heran jika pada masa depan semakin banyak anak muda menjadi lebih apatis dan pragmatis. 

”Namun, jika anak muda tahu politik yang benar, umumnya mereka langsung tertarik untuk aktif. Minimal ingin tahu lebih lanjut,” katanya. Sebenarnya cukup banyak kaum muda yang sadar dan aktif dalam politik. Aktif politik di sini bukan hanya yang berkaitan dengan partai politik ya, tapi mereka juga terlibat dalam isu-isu advokasi, khususnya civil society activities. ”Masih banyak kok anak muda yang perhatian dengan kondisi negara,” tutur Reni. 

Tidak sekadar berharap bahwa akan ada kesadaran pada anak muda yang muncul dengan sendirinya, Center for Election and Political Party (CEPP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI mengadakan kegiatan yang disebut Rock The Vote Indonesia. Alasannya, mereka ingin agar kaum muda Indonesia lebih melek terhadap perkembangan politik di dalam negeri. 

Rock The Vote merupakan gerakan yang mulanya dilakukan di Amerika Serikat jelang pemilihan umum Presiden Barack Obama. Gerakan ini bertujuan memberi pengetahuan seputar pemilihan umum kepada kaum muda. Melihat tujuan positif dan dampak yang sangat baik terhadap keikutsertaan anak muda, akhirnya Rock The Votediadaptasi ke berbagai negara, termasuk di Indonesia. 

Di Tanah Air, Rock The Voteini tersebar ke berbagai daerah. Tercatat sebanyak 38 universitas di seluruh Indonesia telah menyelenggarakan Rock The Vote. Rock The Vote Indonesiadigerakkan oleh anak-anak muda yang peduli akan kehidupan politik bangsa. Mereka mencoba untuk mengajak anak-anak muda lain mengerti dan memahami seluk beluk politik yang terjadi di Indonesia. 

“Jangan sampai nanti anak muda memutuskan enggak memilih hanya karena enggak ngertimekanisme pemilihannya. Atau mereka enggak tahu harus memilih siapa?” ucap Irham, Project Officer Rock The VoteUniversitas Indonesia yang dihelat April 2013 silam. Pada 15 Agustus mendatang juga akan dihelat Rock The Voteterbesar di Universitas Indonesia dengan perkiraan 8.500 orang peserta. 

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia ini menyebutkan bahwa acara Rock The Vote, khususnya di UI, dilakukan dengan cara-cara yang menarik minat anak muda. Rock The Votemengundang pembicara dari berbagai partai politik untuk menjelaskan seluk-beluk kehidupan politik. Tentunya, tanpa membawa kepentingan partainya masing-masing dong. 

”Ya, dengan acara Rock The Voteini semoga nanti pada 2014 pemilih-pemilih muda enggak ada yang golput lagi,” tuturnya. Nah, melihat masih banyaknya anak muda yang peduli akan bangsa ini, apa kita masih mau apolitis dan memilih untuk golput? 

Sumber : ( Sindo )

Menanti Kepemimpinan Kaum Muda

SuaraMuda-Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas meminta Megawati Soekarnoputeri untuk tidak lagi maju dalam Pilpres 2014. Sudah saatnya partai memberikan ruang lebih luas kepada anak muda untuk maju memimpin bangsa ini.

Pernyataan tersebut menarik. Sebagai suami, Taufiq bukannya mendukung, malah ia meminta sang istri, yang kini menjabat ketua umum Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) untuk tidak lagi maju dalam Pilpres 2014. Usia Megawati yang sudah 68 tahun pada 2014 adalah alasan di di balik permintaannya tersebut.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini memang berharap harus ada kaderisasi di tubuh partai berjuluk Moncong Putih itu. Maklum, selain Megawati Soekarnoputeri, lebih separuh dari total 27 orang yang duduk di jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP hasil Kongres III (2010) lalu telah berusia di atas 50 tahun. Paling tua adalah Ketua Bidang Kehormatan Partai Sidharto Danusubroto yang telah menginjak usia 74 tahun. 

Sementara yang paling muda adalah Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antar-Lembaga Negara Puan Maharani. Putri pasangan Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri ini kelahiran 1973. 

Dipilihnya Tjahjo Kumolo untuk menempati posisi sekretaris jenderal DPP PDIP periode 2010-2015 seakan kian menegaskan dominasi kaum tua di tubuh partai ini. Usia Tjahjo Kumolo jauh lebih tua ketimbang sekretaris jenderal sebelumnya, Pramono Anung.  Sesungguhnya ada kader-kader muda potensial, seperti Ganjar Pranowo dan Budiman Sudjatmiko, namun nama keduanya hilang dalam struktur kepengurusan DPP kali ini.

Punya Landasan Historis
Tak bisa dipungkiri bahwa peran kader muda dalam panggung politik nasional kini semakin memudar. Sebab utama dari pudarnya jiwa muda bangsa dewasa ini adalah dominasi kaum tua dalam struktur politik dan pemerintahan nasional, terutama di jajaran elite partai politik. Para politikus senior seolah tak rela perannya di panggung politik segera beralih ke generasi muda.

Padahal, sejujurnya, tak sedikit anak-anak muda bangsa yang berpotensi menjadi pemimpin negeri ini. Soal kemampuan, keberanian, visi, cara pandang, kaum muda kita saat ini tak kalah dengan kaum muda di masa lalu. Seperti kata Taufiq Kiemas, yang mereka butuhkan saat ini adalah “ruang” atau kesempatan untuk berkreasi. Dari sisi spirit, kaum muda sekarang juga diyakini lebih mampu bergerak cepat dan cekatan dalam mengambil inisiatif serta merumuskan kebijakankebijakan strategis. Sedikit saja ruang dan kesempatan diberikan, mereka pasti akan bisa lebih berperan dalam memacu laju pemulihan kehidupan politik dan ekonomi bangsa.

Sejarah sudah membuktikan itu. Perjalanan bangsa ini tak pernah jauh dari peran-peran penting yang dimainkan generasi mudanya. Mereka selalu ada di balik setiap episode penting perjalanan bangsa. Predikatnya sebagai agents of change benar-benar terimplementasi dalam momen-momen yang sangat menentukan dalam perjalanan bangsa ini. Boedi Oetomo yang didirikan pada 20 Mei 1908 (yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh pemuda.

Kongres Pemuda II pada 1928 – yang kita rayakan setiap 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda – telah menghasilkan sebuah dokumen sejarah yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Tokoh-tokoh muda ketika itu secara gagah berani dan terang-terangan menempatkan pemuda sebagai kelompok yang mendukung eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa.

Lalu, Revolusi Kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945 adalah panggungnya anak-anak muda bangsa, sehingga Benedict Anderson pun tak ragu menyebutnya sebagai revolusi pemuda. Lebih dari itu, para pendiri republik ini pun adalah tokoh-tokoh muda yang punya semangat, keberanian, dan idealisme yang luar biasa. Bung Karno diangkat menjadi presiden pada usia 44 tahun. Sementara itu, Bung Hatta diangkat menjadi wakil presiden saat ia masih berusia 43 tahun. 

Ketika Indonesia semakin bobrok dan korup pada 1966, kaum muda lagi-lagi menjadi motor penggerak perubahan sosial. Rezim yang elitis dan tidak memperhatikan kondisi rakyat secara riil dapat ditumbangkan oleh kekuatan pemuda. Apa yang terjadi pada 1966 kembali terulang pada 1998, dan kaum muda tetap memainkan peranan penting untuk bisa menggulingkan rezim Soeharto yang totaliter-otoriter-militeristik sekaligus sarat dengan korupsikolusi-nepotisme, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem yang lebih demokratis. Berbagai rekam jejak kaum muda di masa lalu di atas mengindikasikan bahwa bangsa Indonesia memiliki landasan historis kepemimpinan kaum muda yang sangat kuat.

Jalur Partai Politik
Namun, ketika Orde Baru naik panggung, peran kaum muda pun meredup. Tokoh-tokoh muda yang bersuara vokal dikucilkan dari lingkaran kekuasaan dan dunia pendidikan. Di bawah rezim represif Soeharto, tokoh-tokoh tua dijaga dan dipagari karena hanya merekalah orang-orang diajak berkompromi. Kehidupan politik bangsa Indonesia berjalan tanpa partisipasi luas kaum muda. Proses regenerasi dihambat secara sistematis dan struktural.

Hasilnya, seperti yang kita saksikan sekarang, yaitu tetap munculnya para politikus dengan kualitas dan watak masa lalu di langgam politik nasional era reformasi. Makanya sangat kuat kiranya alas an bagi bangsa Indonesia untuk kembali mempromosikan kaum muda di level kepemimpinan nasional. Untuk merealisasikan agenda strategis tersebut mutlak diperlukan political will dari kaum tua dan juga strong will kaum muda guna membuktikan bahwa dirinya bisa.

Hal lebih penting lagi adalah peranan partai politik dalam mendidik kader- kader muda guna mengisi kepemimpinan masa depan. Ini harus dimulai dengan sikap legowo-nya kaum tua dalam struktur politik dan pemerintahan nasional. Mereka harus dengan jiwa besar memberikan “panggung” lebih luas kepada kaum muda di level kepemimpinan nasional.

Keterlibatan kaum muda dalam struktur kepengurusan partai politik secara intensif, dapat menjadi momentum awal bagi mereka untuk mulai meretas (kembali) jalan menuju kepemimpinan nasional.

Penulis adalah peneliti politik pada The Habibie Center dan Fellow Paramadina Graduate School of Political Communication Inventor 

HASIL NGEMIS LEBIH GEDE DARI GAJI MANAJER !


SuaraMuda-Kalau dengar kata pengemis apa yang ada di benak kamu ? kasihan ? beuh sudah gak jaman lagi kasihan sama pengemis bro. Lo tau nggak sih ? kalau pengemis itu deket sama yang namanya korupsi ? kok bisa ? Ya iyalah mereka memanipulasi wajah, pakaian, seolah-olah susah sekali hidupnya untuk menarik belas kasih.
Padahal, gila lu ndro penghasilan pengemis melebihi gaji manajer bro ! bisa sebesar itu ya pengahasilan para peminta-minta. Miris banget gak sih, banyak di luar sana yang kerja keras dapatnya pas-pasan. Pas mau makan uangnya pas, mau tidur di hotel uangnya pas, mau liburan ke hongkong uangnya hehehe.
Ah yang bener aja deh, ini fakta tauk. Petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan menemukan fakta mengejutkan. Dalam sehari, pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. WOW beut broh rasanya pengen ngedeprok aja deh di bawah jembatan grogol deket trisakti, dapat duit sejuta dari ngemis, terus malemnya nonton di Central Park or Taman Anggrek wkwkwk.
“Kalau yang segitu biasanya didapat pengemis dengan tingkat kekasihanan yang sangat sangat kasihan. Seperti pengemis kakek-kakek atau ibu-ibu yang mengemis dengan membawa anaknya,” ujar Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda saat ditemui di kantornya, Juni lalu di merdekacom.
Lucunyah lagi, yang namanya pengemis itu ada tingkatannya loh. Kalau yang tadi disebutkan dapatnya Rp 750 ribu sampek Rp 1 juta, itu pengemis kelas satu yang derajat dikasihaninya tinggi. Siapa pengemis kelas satu itu ? Eng ing eng.. rupanya mereka adalah kakek-kakek dan ibu-ibu yang bawa anak.
Lanjut kata suku dinas tadi, ada yang namanya pengemis kelas dua atau standar. Biasa aja penghasilannya dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu. WHAT ? biasa aja ? itu mah lumayan banget bisa buat liburan ke Singapore pakai tiket promo broh !
Mari kita bandingkan penghasilan pengemis dan manajer hehehe. Pengemis kelas satu rata-rata penghasilan per bulan Rp 30 juta. Pengemis kelas dua rata-rata penghasilannya Rp 12 juta. Paling-paling modalnya tutup botol, botol isi beras.
Manajer / Kepala Bagian kisaran gaji 10 – 15 juta per bulan (en.jobloker.com). Untuk bisa mencapai posisi ini kamu harus mempunyai pengalaman setidaknya 7 hingga 10 tahun. Modalnya banyak yah tentunya sekolah dulu, mobil, bensin, sama pernak-pernik gaya kantoran.
Nah jomplang banget donk, manajer di Jakarta masak dikalahin sama pengemis.
HAHAHA kamu pernah ketipu kan sama yang kayak ginian (pengemis)? Emang sih orang Indonesia itu mudah kasihan, makanya dimanfaatkan sama yang “jual tampang melas”. Saran aja sih broh lebih baik uang recehnya ditabung aja, kalau mau nyumbang bisa lewat lembaga sosial, lembaga zakat yang sudah resmi, jadi uangnya betul-betul berguna “membantu” mereka yang benar-benar butuh. Dijamin gak nyesel deh karena ini FAKTA! Sumber suara muda
 

.

Support : Creating Website | bahrun grup | simponi
Copyright © 2011. Suara Muda Kebumen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by cs
Proudly powered by Blogger