- Sinema dari Konflik Agraria
Showing posts with label suara muda. Show all posts
Showing posts with label suara muda. Show all posts
7/22/2018
Film “Melawan Arus” dari Kebumen Juara di Malang Film Festival 2018
Film Melawan Arus karya Eka Saputri dari SMKN 1 Kebumen membantu mengingatkan kembali tentang masalah yang masih menjadi keresahan tersebut. Pada Sabtu, 7 April 2018 film Melawan Arus berhasil menjuarai Malang Film Festival 2018 untuk kategori Fiksi Pendek Pelajar.
Sebagaimana terjadi pada nasib para petani Urut Sewu yang masih menggantung paska pemagaran lahan pertanian mereka.
Lulu Ratna mewakili dewan juri untuk kategori Fiksi Pendek Pelajar dan Mahasiswa menjelaskan dalam laporan kerja penjuriannya
Melawan Arus bercerita tentang Siti (Eti Puspitasari) yang percaya bahwa proses penangkapan suaminya Yono (Deni Noviyana) merupakan fitnah akibat konsekuensi rumit dari sengketa tanah antara petani dan TNI yang tak kunjung berujung kejelasan. Situasi tak menentu berujung pada keinginan pindah dari Yono yang ditolak oleh Siti. Siti ngotot untuk tetap tinggal dan terus berjuang bercocok tanam di lahan tesebut.
Eka Saputri yang hadir terlambat pada malam penganugerahan menjelaskan proses filmnya.
Produksi film Melawan Arus berhasil terwujud lewat kerja kolektif dan kolaborasi program Sinema Kedung Meng Desa-Desa pada 11 Agustus hingga 5 November 2017. Sebuah rangkaian yang di pelaksanaan tahun keduanya bisa menghadirkan lokakarya produksi difasilitasi Cinema Lovers Community (CLC Purbalingga). CLC yang sudah tidak diragukan pengalamannya dalam pendampingan produksi film karya pelajar. Keseluruhan rangkaian program dikelola oleh Komunitas Kedung (Kebumen) di bawah naungan Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB) yang didukung penuh bantuan untuk masyarakat film dari Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Film) serta Perpusda Kebumen, Roemah Martha Tilaar Gombong dan Sangkanparan (Cilacap). [put]
7/22/2018

6 Film FFP 2018 digelar di Karangsambung Kebumen
Ratusan penonton memadati tanah lapang pedukuhan Pesanggrahan malam itu, Senin (9/7); tak jauh dari pusat keramaian Karangsambung Kebumen. Sejak lepas isya’ hamparan terpal yang digelar panitia Festival Film Purbalingga (FFP) dipenuhi anak-anak yang tak sabar menunggu film diputar. Model layar tanjleb mengingatkan kenangan publik jaman dulu saat menonton bioskop layar lebar “misbar” di kapangan terbuka.
Putaran kedua dari 17 lokasi yang terpilih untuk tempat pemutaraan bioskop dengan sound-system menggelegar, tak hanya dipadati anak-anak. Kalangan muda hingga para orangtua serta penjual jajanan tak ketinggalan memanfaatkan keramaian ini untuk berjualan.
Pihak panitia festival yang terdiri dari Cinema Lover’s Community (CLC)Purbalingga, Sangkanparan (Cilacap) dan Komunitas Kedung (Kebumen) menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Pentulu Indah serta Karang Taruna Desa Karangsambung dalam perhelatan malam itu.
Rupanya layar tanjleb memang jadi pilihan cara menyajikan tontotan film dalam festival tahunan yang kini telah memasuki tahun ke 12 ini.
“Mendekatkan film kepada penonton terutama penduduk di desa yang memiliki hak sama dengan warga perkotaan yang biasa dimudahkan untuk mengakses tontonan di gedung bioskop”, papar Bowo Leksono tentang media pilihan dalam penyajian karya sinema yang diputar. Ia menambahkan bahwa sajian film dalam festival tahunan ini akan dijaga konsistensinya dengan pilihan layar tanjleb sebagai model.

FILM PELAJAR: Anak-anak juga antusias menonton 3 film bikinan pelajar Kebumen di FFP 2018 [Foto: Komunitas Kedung]
Ada 6 Film
Ada 6 film diputar di lokasi yang tak jauh dari pusat LIPI Karangsambung ini. Diantaranya ada 3 karya pelajar, masing-masing: “ Di Dasar Air” (Sutradara: Intan Karunia, SMK 1 Gombong), “Batu Badar Besi” (Sutradara: Alfa Khumairoh, SMK Karanggayam) dan “Tanah Tuan Tanah” (Sutradara: Hestika Sari, SMK Karanggayam).
Selain film karya para pelajar ini, ada juga film berjudul “Oleh-Oleh (Sutradara: M. Reza Fahriansyah), “Ji Dullah” (Sutradara: Alif Septian) dan “Sekala Niskala” (Sutradara: Kamila Andini). Film terakhir ini telah memperoleh award di berbagai festival bertaraf internasional. Dan baru saja film ini disertakan dalam Asean Film Festival 2018 yang juga menyabet penghargaan tingkat Asia. Pelibatan warga setempat dalam gelaran ini pun akan selalu diupayakan ada di setiap lokasi penyajian.
“Layar tancap ini juga menjadi peluang yang baik untuk mengingatkan kembali potensi geopark LIPI Karangsambung. Para pemuda tentu selalu terbuka terhadap berbagai acara yang ditawarkan dari pihak luar sejauh itu bertujuan positif. Apalagi bagi Karangsambung yang juga mempunyai obyek wisata PI (Pentulu Indah_Red)“, ungkap Sutasor dalam sambutannya di sela pemutaran film.
Selaku Ketua Sub-Karangtaruna “Gatra Karsa” yang membawahi 6 dusun sekaligus penanggung jawab keamanan perhelatan, pihaknya sangat mengapresiasi upaya pengangkatan potensi sinema Indonesia; termasuk film karya para pelajar di daerahnya.
Salah satu pengurus pengurus pokdarwis Bukit Pentulu Indah, Supriyanto menambahkan bahwa meskipun Pentulu Indah sudah populer melalui berbagai liputan stasiun televisi, “Tetapi acara seperti ini tetap diperlukan untuk menggiatkan pemuda dan meramaikan lokasi di lingkup sekitaran area wisata yang ada di desa”.
Antusiasme penonton di dusun Pesanggrahan begitu tinggi hingga akhir pemutaran film utama, Sekala Niskala besutan sutradara Kamila Andini. Masih ada satu titik lokasi lagi yang akan disambangi Layar Tanjleb FFP 2018 yaitu Perum Jatisari kecamatan Kebumen kemudian berlanjut ke Banjarnegara. [put]
Label:
suara muda
12/19/2016
Kericuhan Warnai Public Hearing RAPBD
Kericuhan terjadi saat Public hearing (dengar pendapat) tentang Rancangan Peraturan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kebumen tahun 2017 di ruang rapat Paripurna DPRD Kebumen, Jumat (16/12/2016). Hal tersebut dipicu permasalahan draft nota keuangan RAPBD yang diberikan kepada sejumlah peserta sidang tidak sesuai dengan yang semestinya. Bahkan, salah satu anggota DPRD, Makrifun yang juga anggota Badan Anggaran meminta agar nota keuangan ditarik dari peserta sidang. Makrifun sangat menyayangkan atas kejadian yang memalukan terjadi pada rapat Paripurna tersebut. kejadian tersebut seharusnya tidak terjadi dalam sidang DPRD Kebumen.
“Saya minta nota keuangan ditarik dari seluruh peserta sidang dan diganti dengan nota keuangan yang sesuai,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut saat menginterupsi sidang.
Sementara peserta lainnya, Fuad yang merupakan perwakilan LSM Forum Masyarakat Sipil (Formasi) menyebut bahwa RAPBD tahun 2017 dapat dikatakan cacat hukum. Pasalnya, pembahasan mengenai RAPBD sudah salah sejak awal.
“Kesalahan itu meliputi segala aspek seperti prinsip, kepatuhan terhadap perundang-undangan yang berlaku, administrasi, substansi, proses, hingga mekanismenya,” ungkap Fuad.
Kesalahan tersebut menurut Fuad mengenai keterlambatan penyerahan draft Raperda karena perubahan Satuan Organisasi dan Tata Kerja sesuai PP Nomor 18 Tahun 2016 namun dalam konsideran PP tersebut tidak dicantumkan. Fuad menambahkan, dalam konsideran nomor 34 tertulis Perda Nomor 17 tahun 2010 tentang RPJMD tahun 2010-2015 masih digunakan sebagai acuan RAPBD tahun 2017. Padahal RPJMD tersebut sudah tidak lagi digunakan.
“Draft Raperda ini hanya copy paste,” tegas Fuad.
Public hearing tersebut dihadiri oleh legislatif, eksekutif, LSM, Camat dan perwakilan kepala desa. Hingga batas waktu yang ditentukan draft nota keuangan yang diinginkan belum juga ada, maka Public hearing dihentikan pada pukul 16.00 WIB. Kemudian dilanjutkan pembahasan lebih lanjut oleh pimpinan DPRD, Badan Anggaran, eksekutif dan tim penyusunan RAPBD usai Public hearing. (LHR/Kn07)
sumber >> (kebumennews.com)
Label:
berita,
indonesia. batu akik,
kebumen berbagi,
suara muda
12/21/2015
“Bawono Kebuja” Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen dan Jogjakarta’ ini, digelar selama 2 hari; 15-16 Desember 2015.
Festival Dalang Anak 2015 Banjarnegara
Rumah Budaya “Nagasasra” Banjarnegara dengan dukungan Pemerintah Desa Merden Kecamatan Purwanegara menggelar Festival Dalang Anak 2015, bertempat di Balai Desa Merden. Festival dengan pendekatan lomba seni pedalangan untuk tahun ini diikuti oleh 11 peserta dari 4 daerah yang oleh panitia diakronimkan dengan sengkalan
Pada hari pertama menampilkan 1 peserta dari Banjarnegara dan 4 peserta dari Kebumen. Banyak catatan menarik saat mencermati unjuk kebolehan dalang anak partisipan lomba dengan kriteria penilaian mencakup 3 aspek utama. Eksploor kepiawaian melalui organ tubuh seputar mulut, tangan dan kaki; menjadi fokus dewan yuri yang terdiri dari 3 orang yang ditunjuk penyelenggara.
Festival Dalang Anak 2015, dibuka hari Selasa [16/12] oleh Pejabat Sekdes Merden mewakili unsur pemerintahan desa; benar-benar menarik perhatian publik. Demikian pula bagi Dewan Kesenian Daerah [DKD] Kebumen yang mengambil konsekuensi dengan mengirimkan kontingen, terdiri dari 4 dalang anak berikut pendamping, pelatih, waranggana dan beberapa wiyaga pengiring. Padahal bagi DKD Kebumen sendiri dalam urusan realisasi program-programnya, tak ada dukungan dana operasional sepeser pun dari pemerintah.
Keempat dalang anak yang jadi duta seni pedalangan mewakili Kebumen itu adalah Kethug Guritno, Bambang Priambodo, Gilang Wibisono dan Alfian Dwi Saputro. Keempatnya merupakan hasil seleksi 11 dalang anak beberapa hari sebelumnya, dan berlatih pendalaman materi lomba di padepokan “Sehat Medika” milik R. Suman yang notabenenya adalah Ketua Pepadi Kebumen.
Sedangkan Ketua Umum DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo mengakui pengiriman kontingen ke Lomba Dalang Anak 2015 di Banjarnegara ini merupakan salah satu program lembaga daerah yang diketuainya, meskipun jajaran Pengurus DKD periode sekarang belum dilantik karena kendala seputar internal birokrasi daerahnya yang tak kunjung beres. Tantangan lain yang memprihatinkan fungsi dan kinerja DKD Kebumen adalah bahwa lembaga ini mengalami sindrom zero-budgeting untuk tahun 2015; selain juga tak punya sekretariat yang merupakan kebutuhan vital kelembagaan.
Catatan Apresiatif
Lomba Dalang Anak 2015 jadi ajang untuk menguji seberapa konsisten DKD Kebumen merealisasikan agenda programnya. Tetapi di dalam pengertian itu, regenerasi seni pedalangan daerah memang menjadi problematika tersendiri. Catatan yang dapat dihimpun dari event Lomba Dalang Anak 2015 yang difasilitasi oleh Rumah Budaya Nagasasra di Banjarnegara, nampaknya, dapat menjadi tonggak yang cukup penting.
Kiprah penampilan dalang anak dari 4 daerah setidaknya cukup bersyarat untuk dihadapkan pada problem regenerasi seni pedalangan tradisional.
Tiga lakon pendek yang disiapkan penyelenggara, Jabang Tetuko, Babad Alas Wanamarta dan Dewaruci memang menarik untuk dijadikan bahan eksplorasi yang memenuhi visi berkesenian dalam dua aspek; sebagai tontonan dan tuntunan.
Performa para dalang anak di event ini memang unik dan fenomenal. Terlebih bila mau dicermati lebih dalam dari bagaimana dalang anak mempertunjukkan kepiawaiannya dalam mendekati terpenuhinya kriteria penilaian normatif dalam suatu lomba; maka itu lah substansi dari catatan apresiatif ini. Dengan mempermanai proses kreatifnya, dapat lah ditangkap peluang bagaimana eksplorasi ide gagasan dapat dibangun secara optimal. Ini lebih dari sekedar menjawab problem regenerasi yang masih menjadi kekhawatiran tersendiri.
Dari perspektif festival, spirit pembaharuan dapat dijadikan alas pemikiran yang lebih visioner. Bahwa jauh ke depan, pedalangan harus berkembang jadi bagian dialektikajaman sebagai sebuah eksistensi berkesenian; maka sejak sekarang saatnya benih itu ditumbuhkan.
Event Lomba Dalang Anak 2015 adalah tonggak untuk itu…
Label:
Budaya,
Karya Anak Muda,
suara muda
12/21/2015
Color Party’ Peringati Hari Ulang Tahun Kebumen
Color Party salah satu rangkaian peringatan hari jadi kebumen ke 80 Kabupaten Kebumen sangat meriah di nikmati oleh kalangan muda apa lagi di iring alunan musik party yang membawa suasana menjadi hangat dan penuh teriakan.
Apa dari masud rangkean hari jadi kebumen dengan color party ini , budaya apa lagi yang di bawa kekebumen apakah ada sejarah yang di bawa di kebumen terkait dengan color party ini, apa peradaban budaya baru di kebumen, kalao lihat gaya color parti adalah budaya gaya india saat-saat pesta atau hari tertentu yang di sakralkan di india. Hal ini menjadi kontroversi pertayaan para nitizem kebumen, apa dan tujuan color party dengan rangkean hari jadi kebumen ( di oleh dari berbagi sumber )
9/10/2015
Ratusan Mahasiswa Grudug Gedung DPRD Tuntut Kesejahteraan Guru
Kebumen Ratusan mahasiswa perwakilan yang tergabung
dalam GEMAPAGAR ( Gerakan Mahasiswa Peduli Anggaran Pendidikan ) PMII
dan BEM IAINU Kebumen , menuntut kepedulian pemerintah terhadap Guru
Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang selama ini belum
sejahtera. Mereka mendatangi kantor DPRD Kabupaten Kebumen untuk
beraudeinsi.
“Meminta kesejahteraan guru disetarakan dengan UMKR, dan mendorong peningkatan anggaran untuk GTT pada anggaran tahun 2016 ,” ujar Kordum Gemapagar, Afifudin di depan Komisi A DPRD Kebumen, Kamis (8/9/2015).
Peserta aksi diterima untuk audiensi dengan anggota DPRD yang di wakili Komisi A. Sidang dipimpin Yudhi Tri Hartanto SH. Peserta aksi menuntut agar DPRD membuat surat pernyataan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan bagi para GTT pada anggaran tahun 2016 . Surat pernyataan tersebut selain ditanda tangani ketua juga harus ditandatangani oleh peserta sidang.
Adu argumen antara anggota DPRD dan mahasiswa berlangsung cukup lama, hingga akhirnya sepakat surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh peserta sidang. (bram)
“Meminta kesejahteraan guru disetarakan dengan UMKR, dan mendorong peningkatan anggaran untuk GTT pada anggaran tahun 2016 ,” ujar Kordum Gemapagar, Afifudin di depan Komisi A DPRD Kebumen, Kamis (8/9/2015).
Peserta aksi diterima untuk audiensi dengan anggota DPRD yang di wakili Komisi A. Sidang dipimpin Yudhi Tri Hartanto SH. Peserta aksi menuntut agar DPRD membuat surat pernyataan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan bagi para GTT pada anggaran tahun 2016 . Surat pernyataan tersebut selain ditanda tangani ketua juga harus ditandatangani oleh peserta sidang.
Adu argumen antara anggota DPRD dan mahasiswa berlangsung cukup lama, hingga akhirnya sepakat surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh peserta sidang. (bram)
Label:
Politik,
suara muda
9/10/2015
Sedang diskusi, Ganjar tiba-tiba didemo mahasiswa Kebumen
Belasan mahasiswa dan masyarakat Kebumen, Jawa
Tengah yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (Gempar)
Rabu (9/9) malam ini sekitar pukul 21.30 WIB melakukan aksi unjuk rasa
atau demo di Halaman Pendopo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen,
Kawasan Alun-alun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Aksi itu digelar tepat saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sedang menjadi pembicara dalam acara 'Ngopi Bareng Ganjar' di Pendopo Kabupaten Kebumen bersama perangkat desa, camat, lurah se Kabupaten Kebumen terkait beberapa persoalan di wilayah Kebumen.
Belasan mahasiswa dan warga itu secara tiba-tiba dilakukan di Alun-alun Kebumen yang didominasi mahasiswa PMII Kebumen itu diawali dengan orasi. Dengan bergandengan tangan mereka secara bergantian melakukan orasi terkait tuntutan mereka supaya Ganjar menyelesaikan kasus Urut Sewu.
Dalam orasinya, belasan mahasiswa dan warga itu menuntut dan mendesak supaya Ganjar Pranowo untuk segera melakukan proses penyelesaian kasus bentrokan antara TNI dan warga Urut Sewu yang sampai saat ini belum tuntas.
"Kita selaku mahasiswa menginginkan agar kasus Urut Sewu di Kebumen ini segera diselesaikan. Ini adalah momen paling tetap dengan para pejabat kecamatan sedang berkumpul dan berdiskusi. Persoalan urut sewu bukan persoalan yang baru. Bukan hanya satu orang yang menjadi korban bentrokan. Bahkan puluhan! Bahkan ratusan orang!" ungkap Koordinator Aksi Bayu Winarso kepada wartawan disela-sela orasinya.
Aksi yang dilakukan di malam hari dan tanpa adanya izin atau pemberitahuan itu langsung mendapatkan penjagaan ketat dari aparat kepolisian Unit Dalmas Polres Kebumen yang dipimpin langsung oleh Wakapolres Kebumen Kompol Parasian Herman Gultom.
"Aksi anda tanpa izin. Jangan orasi! Hentikan orasi! Kalau tidak akan kami bubarkan!" teriak Gultom yang berdiri di belakang barisan anggota polisi Dalmas Polres Kebumen.
Namun, belasan mahasiswa dan warga itu tetap melakukan orasi dan hingga akhirnya didesak oleh polisi dan terjadilah aksi saling dorong mendorong antara pendemo polisi. Hingga akhirnya, aksi yang mayoritas diikuti mahasiswa beralmamater Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut bubar.
Meski sudah dibubarkan dan dilarang untuk berorasi, sampai saat ini belasan mahasiswa dan warga tetap bertahan, duduk-duduk disekitar Alun-alun Kabupaten Kebumen menunggu Ganjar Pranowo untuk menemui dan menanggapi aksi mereka.
"Saya ingin tetap bertemu. Saya yakin mereka pasti akan temui kita. Kita minta dan mau membuktikan sejauh mana pemerintah sanggup dan mampu membackup kasus ini supaya segera selesai," pungkas salah satu peserta aksi tersebut. Merdeka.com -
Aksi itu digelar tepat saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sedang menjadi pembicara dalam acara 'Ngopi Bareng Ganjar' di Pendopo Kabupaten Kebumen bersama perangkat desa, camat, lurah se Kabupaten Kebumen terkait beberapa persoalan di wilayah Kebumen.
Belasan mahasiswa dan warga itu secara tiba-tiba dilakukan di Alun-alun Kebumen yang didominasi mahasiswa PMII Kebumen itu diawali dengan orasi. Dengan bergandengan tangan mereka secara bergantian melakukan orasi terkait tuntutan mereka supaya Ganjar menyelesaikan kasus Urut Sewu.
Dalam orasinya, belasan mahasiswa dan warga itu menuntut dan mendesak supaya Ganjar Pranowo untuk segera melakukan proses penyelesaian kasus bentrokan antara TNI dan warga Urut Sewu yang sampai saat ini belum tuntas.
"Kita selaku mahasiswa menginginkan agar kasus Urut Sewu di Kebumen ini segera diselesaikan. Ini adalah momen paling tetap dengan para pejabat kecamatan sedang berkumpul dan berdiskusi. Persoalan urut sewu bukan persoalan yang baru. Bukan hanya satu orang yang menjadi korban bentrokan. Bahkan puluhan! Bahkan ratusan orang!" ungkap Koordinator Aksi Bayu Winarso kepada wartawan disela-sela orasinya.
Aksi yang dilakukan di malam hari dan tanpa adanya izin atau pemberitahuan itu langsung mendapatkan penjagaan ketat dari aparat kepolisian Unit Dalmas Polres Kebumen yang dipimpin langsung oleh Wakapolres Kebumen Kompol Parasian Herman Gultom.
"Aksi anda tanpa izin. Jangan orasi! Hentikan orasi! Kalau tidak akan kami bubarkan!" teriak Gultom yang berdiri di belakang barisan anggota polisi Dalmas Polres Kebumen.
Namun, belasan mahasiswa dan warga itu tetap melakukan orasi dan hingga akhirnya didesak oleh polisi dan terjadilah aksi saling dorong mendorong antara pendemo polisi. Hingga akhirnya, aksi yang mayoritas diikuti mahasiswa beralmamater Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut bubar.
Meski sudah dibubarkan dan dilarang untuk berorasi, sampai saat ini belasan mahasiswa dan warga tetap bertahan, duduk-duduk disekitar Alun-alun Kabupaten Kebumen menunggu Ganjar Pranowo untuk menemui dan menanggapi aksi mereka.
"Saya ingin tetap bertemu. Saya yakin mereka pasti akan temui kita. Kita minta dan mau membuktikan sejauh mana pemerintah sanggup dan mampu membackup kasus ini supaya segera selesai," pungkas salah satu peserta aksi tersebut. Merdeka.com -
[tyo]
Label:
BURUH,
Politik,
suara muda
8/20/2015
Kesenian Asli Kebumen Yang Me-nusantara, Berawal Dari Sejarah Perlawanan
Kebumen – Jika anda mencari tentang kesenian rakyat yang asli Kebumen bukan ndolalak, karena itu milik Purworejo, bukan Jaipongan karena itu dari Jawa Barat ukan rongeng karena itu dari Banyumas. Tetapi anda harus memperdalam tentang Seni
Cepetan Alas yang ternyata asli Kebumen. Cepetan alas ini merupakan
tarian yang sarat makna karena diawali dari perjuangan melawan Jepang.
Cépét yaitu kesenian tradisional di desa-desa di Karanggayam seperti Karanggayam, Kajoran dan Watulawang. Kesenian ini dimainkan oleh 12 orang. Para pemain memakai topeng raksasa. Rambutnya terbuat dari duk (sabut pohon aren) dan pemainnya mengenakan pakaian hitam, dan memakai sarung sebagai blebed di pinggang. Tarian diiringi musik tradisional yaitu kentongan, jidur (kendang gede) dan drum bekas. Cepetan alas oleh sebagian masyarakat di sebut juga Dangsak di desa Watulawang sudah ada sejak tahun 1960-an didirikan oleh Parta Wijaya (Alm), dan turun temurun sampai sekarang.
Di Watulawang para pemain seni ini, pentas hanya setahun sekali, tepatnya pada perayaan 17 Agustus. Dalam peringatan 17 Agustus, Cépét merupakan menu wajib yang harus di mainkan, mengiringi anak sekolah SD Watulawang yang konvoi mengelilingi desa, bahkan sampai ke desa lain di Peniron.
Saat mau pentas, para rombongan cépét biasanya sudah ngumpul pagi- di rumah Ketua rombongan (Dawintana ) dan memakai seragam dan aksesoris perlengkapannya, kemudian rombongan berangkat untuk mengikuti upacara peringatan 17 Agustus di SD Negeri Watulawang, bersama rombongan kuda lumping dan anak-anak sekolah.
Kemudian di lanjutkan dengan konvoi, rombongan cépét selalu berada di depan, dan di ikuti rombongan anak sekolah, dan paling belakang rombongan kuda lumping. Di perjalanan kadang pemain cépét ini sudah ada yang kesurupan, dengan sautan suara yang menyeramkan, mereka mengerang- ngerang laksana raksasa, semakin menambah keseraman terutama bagi anak kecil yang melihat.
Sesampainya di lokasi, di bakarlah kemenyan oleh sang pawang, terus mereka berjoged (Ngibing,jawa ) sesuai perannya, dan kesurupan pun makin menjadi- jadi, suasana makin menyeramkan, para pemain yang kesurupan itu mulai makan sesaji kumplit yang di sediakan di meja kusus tempat sesaji.
Mereka makan serba aneh, daun papaya mentah, kembang, minyak wangi, kemenyan, dan makanan makanan lain, bahkan ada juga yang makan ayam hidup. Penonton juga kadang ada yang kesurupan. Bagi anda yang berminat menyaksikan pentas Cépét, datang saja ke Desa Watulawang atau Kajoran pada setiap 17 Agustus, karena kesenian ini hanya pentas pada hari itu. (A-42/Brs/Opal/Diolah dari berbagai sumber).
Cépét yaitu kesenian tradisional di desa-desa di Karanggayam seperti Karanggayam, Kajoran dan Watulawang. Kesenian ini dimainkan oleh 12 orang. Para pemain memakai topeng raksasa. Rambutnya terbuat dari duk (sabut pohon aren) dan pemainnya mengenakan pakaian hitam, dan memakai sarung sebagai blebed di pinggang. Tarian diiringi musik tradisional yaitu kentongan, jidur (kendang gede) dan drum bekas. Cepetan alas oleh sebagian masyarakat di sebut juga Dangsak di desa Watulawang sudah ada sejak tahun 1960-an didirikan oleh Parta Wijaya (Alm), dan turun temurun sampai sekarang.
Di Watulawang para pemain seni ini, pentas hanya setahun sekali, tepatnya pada perayaan 17 Agustus. Dalam peringatan 17 Agustus, Cépét merupakan menu wajib yang harus di mainkan, mengiringi anak sekolah SD Watulawang yang konvoi mengelilingi desa, bahkan sampai ke desa lain di Peniron.
Saat mau pentas, para rombongan cépét biasanya sudah ngumpul pagi- di rumah Ketua rombongan (Dawintana ) dan memakai seragam dan aksesoris perlengkapannya, kemudian rombongan berangkat untuk mengikuti upacara peringatan 17 Agustus di SD Negeri Watulawang, bersama rombongan kuda lumping dan anak-anak sekolah.
Kemudian di lanjutkan dengan konvoi, rombongan cépét selalu berada di depan, dan di ikuti rombongan anak sekolah, dan paling belakang rombongan kuda lumping. Di perjalanan kadang pemain cépét ini sudah ada yang kesurupan, dengan sautan suara yang menyeramkan, mereka mengerang- ngerang laksana raksasa, semakin menambah keseraman terutama bagi anak kecil yang melihat.
Sesampainya di lokasi, di bakarlah kemenyan oleh sang pawang, terus mereka berjoged (Ngibing,jawa ) sesuai perannya, dan kesurupan pun makin menjadi- jadi, suasana makin menyeramkan, para pemain yang kesurupan itu mulai makan sesaji kumplit yang di sediakan di meja kusus tempat sesaji.
Mereka makan serba aneh, daun papaya mentah, kembang, minyak wangi, kemenyan, dan makanan makanan lain, bahkan ada juga yang makan ayam hidup. Penonton juga kadang ada yang kesurupan. Bagi anda yang berminat menyaksikan pentas Cépét, datang saja ke Desa Watulawang atau Kajoran pada setiap 17 Agustus, karena kesenian ini hanya pentas pada hari itu. (A-42/Brs/Opal/Diolah dari berbagai sumber).
Label:
berita,
Budaya,
jawa tenga,
jawa tengah,
JlaJah Alam,
kebumen,
suara muda,
Vidio
3/11/2015
Batu Akik Kebumen Untuk Ases Soris Berbagi Jenis
Bisa di order perbiji dan paket banyak grosir imbok ke https://www.facebook.com/bahrunali ke email bacayuh@gmail.com . hasil hume industri pedesaan kebumen punya 

Label:
Baju Gaya Anak Muda,
Indahnya desa,
Kuliner,
suara muda
3/02/2015
Pemain Luar Menjadi Daya Tarik Persak
KEBUMEN- Hadirnya pemain luar kota/luar daerah membawa sisi menarik tersendiri bagi penggemar sepakbola di Kabupaten Kebumen. Tak jarang satu sisi ini memang membuat penggemar dan pencinta sepak bola betah sampai akhir pertandingan yakni menunggu pemain kebanggaannya keluar ruang ganti.
Sedikitnya pemain yang cukup ngetren di dunia sepak bola yakni M. Irfan, bagi pencinta sepak bola tanah air. Pemian yang mempunyai ciri khas kepala plontos itu lebih dikenal oleh penggemarnya. Tak hanya itu kemampuan mengolah si kulit bundar membuat decak kagum tersendiri saat dilapangan.
Saat wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai, para penonton langsung memburu pemain idolanya dan langsung memohon untuk foto bersama. Hal iti diakui oleh M.Irfan sendiri betapa banyaknya yang masih mendukungnya terus bermain.
Label:
Baju Gaya Anak Muda,
Olah Raga,
suara muda
2/08/2015
Final Bulutangkis Keluarga Ma'arif Cup 2015
Lomba bulutangkis antar sekolah keluarga ma'arif NU kebumen dari tingkat dasar sampai menengah ber ahir pada hari minggu , 8/2/2015. Selama tiga hari yang berahir bibit-bibit pemain kader muda NU kebumen untuk persiapan turnamen tingkat jawa tengah antar ma'arif yang akan berlasung porseni jawa tengah di kebumen sekitar bulan mei, ujar ikun.
Label:
jawa tengah,
kebumen,
Olah Raga,
Pendidikan,
pendidikn,
suara muda
2/07/2015
Cabang Tenis Meja Di minati
Label:
jawa tengah,
kebumen,
Kesenian kebumen,
Olah Raga,
suara muda
2/04/2015
Batu Akik Kebumen Siap pake
Suara_Muda>> berbagai jenis batu akik asli kebumen siap di jualan melalui pesanan dan siap kirim dari berbagai jenis batu asli kebumen dari badar besi, jenis liontin dan cincin harga bersahabat dari 60 ribu, 100 ribu dan 200 ribu perbiji siapkan kebutuhan berapa saja, batu akik dari kebumen, Kalau batu yang sepesial coraknya dari 300-700 ribu minat bisa Email: bacayuh@gmail.com
Label:
Indahnya desa,
indonesia. batu akik,
jawa tenga,
JlaJah Alam,
kebumen,
nu,
suara muda
1/27/2014
Terjdi gempa 5,3 skr. Lagi Kebumen
Terjdi gempa 5,3 skr. Pada pukul 23.14 wib. Titik brada di 8,16 LS.
109,26 BT. kedalaman 68 barat daya kebumen dengan kedalaman 33 km Info
Gempa Mag:5.3 SR, 27-Jan-14 23:14:02
WIB, Lok:8.16 LS,109.26 BT (68 km BaratDaya KEBUMEN-JATENG), Kedlmn:33
Km ::BMKG Terjdi gempa 5,3 skr. Pada pukul 23.14 wib. Titik brada di
8,16 LS. 109,26 BT. kedalaman 68 barat daya kebumen dengan kedalaman 33
km.
pada malam hari ini baru saja gempa mngucang kembalai cukup lumayan terasa gerakan di wilayah buayan , warga cemas dan keluar rumah rame-rame ada sedikit .. bikin suasana rame. di masyarakat dengan wak sekitar 30 detik sangat terasa belum tau bera kekuatan gempa laporan pantoan bumennews do lokasi buayan, di karang bolog warga berhaburan sedang hajatan maulud nabi SAW . memilih pulang mengamkan keluarganya.
pada malam hari ini baru saja gempa mngucang kembalai cukup lumayan terasa gerakan di wilayah buayan , warga cemas dan keluar rumah rame-rame ada sedikit .. bikin suasana rame. di masyarakat dengan wak sekitar 30 detik sangat terasa belum tau bera kekuatan gempa laporan pantoan bumennews do lokasi buayan, di karang bolog warga berhaburan sedang hajatan maulud nabi SAW . memilih pulang mengamkan keluarganya.
Label:
lingkungan,
suara muda
1/27/2014
Malam IniDisnakertransos, SAR, PMI, BPBD Pemantoan Gempa Kebumen
SuaraMuda-Gmpa Kebumen 3 rumah 1 SD
Rusak
KEBUMEN, Gempa di Kebumen bumi berkekuatan 6,5 Skala Richter (SR) di
Kebumen, menurut pemantauan berita Wong kebumen malam ini 27/1. Ada tiga
rumah dan 2 ruang kelas SDN Karangtengah, kecamatan Poncowarno, Kebumen
yang mengalami rusak berat akibat gempa, kemarin sabtu 25/1.
Milik Kasmirah di Desa Kalipurwo Kecamatan Kwarasan, Kasmin di Desa
Wonoharjo, Kecamatan Rowokele, dan rumah Tamrin Haryanto di Desa
Candimulyo, Kecamatan Kebumen.
Malam senin 27/1, dini hari, warga petanahan dikabarkan air laut
(surut), diperkirakan ada gempa lebih dahsyat. Tetapi sampai detik masih
aman. Sementara tim BMKG, Tagana Disnakertransos, SAR, PMI, BPBD serta
jajaran polisi dan TNI berjaga dan masih melakukan pemantauan di
sepanjang pantai selatan Kebumen (7 kecamatan) dengan tetap pemanataun
dipusatkan di pantai Ayah. ( Pantoan Kabar Kebumen ) saudara ( Ekwy)
Label:
lingkungan,
suara muda
10/27/2013
Sumpah Pemuda Kebumen Berpusat di Tugu Lawet
SuaraMuda-Peringatan sumpah pemuda yang di lakukan oleh para mahasiswa kebumen jam 20.00 Wib-sampai selesi dengan kawal polisi, berpusat di tungu lawet Kebumen, melingkarai dengan menyalakan lilin sebagai simbol keprihatianan para pengambil kebijakan, terkait mengenang para pahlawa sebagai mana perjuang para pemuda yang gigih tampa mudah menyerah melawan penjajah untuk perjuang bangsa.
Kegiatan yang di lanjutkan di makam pahlawan. Refleksi sumpah pemuda yang di lakukan PMII kebumen dan komsariat stainu kebumen. karena melihat masih jauh peran pemuda terkait peranan kebijakan di pemerintahan, dan masih banyaknya anak-anak pemuda yang putus sekolah, pengaguran dan masih belum mendapat keadilan.
Di mana peranan pemuda di dalam perjuangan sanagt gigigh untuk saat ini masih di lihat sebelah mata. sepeatutnya pemuda tidak lagi hanya dalam posisi perpaku tangan atau inisiatif dari pemerintah dari pemeritah daerah untuk bersama-sama berperan mengisi pembangunan daerah, pemuda yang manpu menbaca tanda-tanda zamannya , seyogyanya telah berbeda pada pemilihan penguatan kelembagaan lokal, guna mendorong kesadaran semua elemen masyrakat untuk lebih terlibat aktif mendorong percepatan pembanguna daerah denganbaik dan sesuai aturan yang telah di tetapkan.
Pemuda harus menyadari bahwa harapan dan cita-cita kemerdekaan akan kedaultan sepenuhnya untuk rakyat ,dengan semangat demokrasi oleh dan untuk rakyat , di era desentralisasi ini. berada di pumdak pemuda.
Label:
mahasiswa,
suara muda
10/26/2013
Selamat Hari Blogger Nasional 2013
SuaraMuda-Saya sendiri sudah lupa kapan saya pertama kali menggunakan blog, ini tapi saya terus berusaha untuk terus berbagi di dunia maya dan nyata walopun dalam tulis saya belum begitu sempurna seperti temen-teman bloger seluruh dunia maupun Asia tapi aku selelu mencoba menyajikan buat diri sendiri dan kawan-kawan dunia maya untuk berbagi sekilas info.. dari karya sendiri maupun karya orang lain. untuk usaha bisa aktif setiap hari...
Harapan saya di Hari Blogger Nasional ini sih sederhana, semoga kedepannya bisa lebih konsisten menulis, dengan tulisan-tulisan yang tentunya lebih berbobot, lebih bermakna dan tentunya lebih bermanfaat. Pengen juga sih di-upgrade, beli domain, tapi nanti aja kalau sudah lebih konsisten dalam menulis, kalau sekarang kayaknya belum bisa karena waktunya masih belum bisa terfokus berbagi yang nyata. masih dalam proses berbagi sesama teman dekat maupun komonitas . bertapa bloger yang kami urus dari prinbadi maupun komonitas berusaha untuk selalu aktif walo waktu sangat sedikit dengan bergelut di dunia kerjasa saya.blog yang kami kolala 1. duniapesantren.com 2. kebumennews.com , stainukebumen.ac.id
Selamat Hari Blogger Nasional, suarakan pendapatmu dan bertanggungjawab atasnya. salam karya dan slam kreatif , untuk terturus berbagi sesama.
jangan pernah berharap di kenangan orang banyak ,apa lagi keluarga bila kamu bukan anak raja atau tokoh besar.
tapi jangan kewatir kita bisa di kenangan orang banyak dan keluarga dengan berkarya menulis dan berbagi sedkitnya minimal ngeblog atau menjadi blogger .. untuk berbagi sesama, menuju perubahan dari diri sendiri dan orang lain. merdeka ....27 oktober 2013
Label:
Karya Anak Muda,
suara muda
































